Minggu, 09 Januari 2011

makalah supervisi

MATA KULIAH SUPERVISI PENDIDIKAN


1. Supervisi Pendidikan
a. Ada dua hal yang mendasar mengapa guru membutuhkan supervisi?, pertama dilihat dari segi pengertian dan yang kedua dilihat dari segi tujuan supervisi pendidikan.
Adi : Dari segi pengertian :
Secara sematik Supervisi pendidikan adalah pembinaan yang berupa bimbingan atau tuntunan ke arah perbaikan situasi pendidikan pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar dan belajar dan belajar pada khususnya.
Boardman et. Menyebutkan Supervisi adalah salah satu usaha menstimulir, mengkoordinir dan membimbing secara kontinyu pertumbuhan guru-guru di sekolah baik secara individual maupun secara kolektif, agar lebih mengerti dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran dengan demikian mereka dapat menstmulir dan membimbing pertumbuan tiap-tiap murid secara kontinyu, serta mampu dan lebih cakap berpartsipasi dlm masyarakat demokrasi modern.
Wilem Mantja (2007) mengatakan bahwa, supervisi diartikan sebagai kegiatan supervisor (jabatan resmi) yang dilakukan untuk perbaikan proses belajar mengajar (PBM). Ada dua tujuan (tujuan ganda) yang harus diwujudkan oleh supervisi, yaitu; perbaikan (guru murid) dan peningkatan mutu pendidikan
Ross L (1980), mendefinisikan bahwa supervisi adalah pelayanan kapada guru-guru yang bertujuan menghasilkan perbaikan pengajaran, pembelajaran dan kurikulum.



Ad.2. Dari segi Tujuan Bahwa :
Tujuan utama supervisi adalah memperbaiki pengajaran (Neagly & Evans, 1980; Oliva, 1984; Hoy & Forsyth, 1986; Wiles dan Bondi, 1986; Glickman, 1990).
Tujuan umum Supervisi adalah memberikan bantuan teknis dan bimbingan kepada guru dan staf agar personil tersebut mampu meningkatkan kwalitas kinerjanya, dalam melaksanakan tugas dan melaksanakan proses belajar mengajar .
secara operasional dapat dikemukakan beberapa tujuan konkrit dari supervisi pendidikan yaitu
A. Meningkatkan mutu kinerja guru
1. Membantu guru dalam memahami tujuan pendidikan dan apa peran sekolah dalam mencapai tujuan tersebut
2. Membantu guru dalam melihat secara lebih jelas dalam memahami keadaan dan kebutuhan siswanya.
3. Membentuk moral kelompok yang kuat dan mempersatukan guru dalam satu tim yang efektif, bekerjasama secara akrab dan bersahabat serta saling menghargai satu dengan lainnya.
4. Meningkatkan kualitas pembelajaran yang pada akhirnya meningkatkan prestasi belajar siswa.
5. Meningkatkan kualitas pengajaran guru baik itu dari segi strategi, keahlian dan alat pengajaran.
6. Menyediakan sebuah sistim yang berupa penggunaan teknologi yang dapat membantu guru dalam pengajaran.
7. Sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan bagi kepala sekolah untuk reposisi guru.
B. Meningkatkan keefektifan kurikulum sehingga berdaya guna dan terlaksana dengan baik
C. Meningkatkan keefektifan dan keefesiensian sarana dan prasarana yang ada untuk dikelola dan dimanfaatkan dengan baik sehingga mampu mengoptimalkan keberhasilan siswa
D. Meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah khususnya dalam mendukung terciptanya suasana kerja yang optimal yang selanjutnya siswa dapat mencapai prestasi belajar sebagaimana yang diharapkan.
E. Meningkatkan kualitas situasi umum sekolah sehingga tercipta situasi yang tenang dan tentram serta kondusif yang akan meningkatkan kualitas pembelajaran yang menunjukkan keberhasilan lulusan.
Jadi dalam proses pencapaian tujuan dan kualitas pendidikan, guru dipandang sebagai peran pelaku utama. Bahkan sekarang ini terjadi sorotan di mana mana tentang kualitas guru bahkan disalahkan yang memproduksinya (LPTK). Jadi dengan adanya supervise ini, yang pertama dapat memperbaiki guru dalam hal berbagai kekurangan, juga untuk memperkecil anggapan masyarakat tentang professional guru.

b. Tugas dan tanggung jawab supervisor pendidikan, adalah sesuai dengan Permendiknas RI Nomor 13 Tahun 2007, tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah, bahwa pada kompetensi Supervisi Kepala sekolah yaitu :
1. Merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesional guru. Tanggung jawabnya adalah Menitikberatkan pengamatan supervisor pada masalah-masalah akademik, yaitu hal-hal yang berlangsung berada dalam lingkungan kegiatan pembelajaran pada waktu siswa sedang dalam proses mempelajari sesuatu.
2. Melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan tehnik supervisi yang tepat. Menitikberatkan pengamatan supervisor pada aspek-aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung dan pelancar terlaksananya pembelajaran
3. Menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.

c. Ilustrasi Program Supervisi Pendidikan di Sekolah
Program pengawasan sekolah adalah perencanaan kegiatan pengawasan sekolah yang meliputi penilaian dan pembinaan bidang teknis edukatif atau akademis dan teknis administratif atau manajerial dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.
Ada dua macam program pengawasan sekolah yaitu program tahunan dan program semester. Pogram tahunan disusun untuk tingkat kabupaten atau kota oleh beberapa orang pengawas yang ditugaskan khusus oleh koordinator pengawas sesuai dengan kewenangannya. Program tahunan ini menjadi acuan bagi pengawas di daerah tersebut untuk menyusun program semester. Program semester pengawasan sekolah disusun oleh masing-masing pengawas sekolah sebelum yang bersangkutan melakukan pengawasan. Program ini berisi pengawasan seluruh sekolah yang menjadi tanggung jawabnya.
Berdasarkan hal di atas, konsep dasar program kepengawasan sekolah tersebut adalah: (1) program pengawasan ada dua macam yakni program tahunan dan perogram semester. Program tahunan untuk kolektif kabupaten atau kota, program semester untuk individu pengawas bagi sekolah-sekolah di bawah tanggung jawabnya; (2) program kepengawasan sekolah menjadi pedoman atau acuan bagi pengawas dalam melaksanakan tugasnya; (3) program pengawas sekolah disusun berdasarkan analisis hasil kepengawasan tahun lalu dan analisis kebijakan yang berlaku saat ini.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam kegiatan penyusunan program tahunan adalah seperti berikut ini:
1) Mengidentifikasi Hasil Pengawasan Sebelumnya dan Kebijakan Bidang Pendidikan
Mengidentifikasi hasil pengawasan sebelumnya adalah mendata atau menandai keberhasilan dan ketidakberhasilan program pengawas sebelumnya. Keberhasilan akan ditandai dengan pencapaian tujuan atau terpenuhinya kriteria keberhasilan yang ditetapkan di dalam program.
2) Mengolah dan Menganalisis Hasil Pengawasan Sebelumnya
Mengolah dan menganalisis hasil pengawasan, meliputi beberapa kegiatan. Kegiatan-kegiatan itu antara lain: (a) mengelompokkan masalah berdasarkan ruang lingkupnya; (b) menganalisis (menguraikan) masalah menjadi lebih rinci; (c) menempatkan atau mencari faktor penyebab setiap masalah yang dianalisis; (d) mencari alternatif saran atau pemecahan masalah.
3) Merumuskan Rancangan Program
Rancangan program pengawasan sekolah disusun dengan isi (komponen atau unsur-unsur) yang lengkap. Unsur-unsur itu antara lain meliputi: latar belakang, tujuan, sasaran, hasil yang diharapkan, metodologi, jadwal pelaksanaan, pelaksana, biaya, sarana, dan kriteria keberhasilan. Rancangan ini disusun dengan sistematika yang logis dan dapat diukur keberhasilan dan ketidakberhasilannya.
4) Mengkoordinasikan Rancangan Program
Rancangan program ini perlu dikoordinasikan dengan atasan pengawas seperti Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Pengkoordinasian ini diperlukan untuk mendapat masukan dan dukungan dari atasan. Dengan dukungan dan masukan itu, program akan mendapat legalisasi secara administratif.
5) Memantapkan dan Menyempurnakan Rancangan Program
Memantapkan dan menyempurnakan rancangan program tahunan adalah pekerjaan yang terakhir dalam menyusun program tahunan kepengawasan. Kegiatan pada tahap ini adalah merevisi program. Semua masukan, terutama yang datang dari atasan dijadikan bahan untuk merevisi program. Selain itu, kemungkinan juga pertimbangan-pertimbangan lain untuk memperbaiki program sehingga bedaya guna dan berhasil guna.

2. Supervisi pendidikan didasarkan pada keadaan dan kenyataan yang sesuai dengan sebenarnya terjadi sehingga kegiatan supervisi dapat terlaksana dengan realistik dan mudah dilaksanakan.
a. Ketrampilan yang harus dimiliki supervisor pendidikan dalam mencapai hasil supervisi yang efektif dan efisien.
• Keterampilan menganalisis proses pembelajaran berdasarkan hasil pengamatan,
• Keterampilan mengembangkan kurikulum, terutama bahan pembelajaran,
• Keterampilan dalam proses pembelajaran.
Pada dasarnya tugas pokok kepala sekolah adalah menilai dan membina penyelenggaraan pembelajaran di sekolah. Dengan kata lain salah satu tugas kepala sekolah sebagai pembinaan yang dilakukan memberikan arahan, bimbingan, contoh dalam proses pembelajaran di sekolah. Berarti bahwa kepala sekolah merupakan supervisor yang bertugas melaksanakan supervisi pembelajaran. Willes (1975), mengatakan di atas bertujuan untuk memelihara atau mengadakan perubahan operasional sekolah, dengan cara mempengaruhi tenaga pengajar secara langsung demi mempertinggi kegiatan belajar siswa. Supervisi hanya berhubungan langsung dengan guru, tetapi berkaitan dengan siswa dalam proses belajar. Ross L (1980), mendefinisikan bahwa supervisi adalah pelayanan kepada guru-guru yang bertujuan menghasilkan perbaikan pengajaran, pembelajaran dan kurikulum. Purwanto (1987), supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah dalam melakukan pekerjaan secara efektif dan efesien.
b. Menurut pendapat saya guru tanpa bantuan orang yang lain dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Tidak bisa dijalankan dengan sempurna,kerena guru dalam meningkatkan mutu pendidikan masih memerlukan bimbingan dari orang lain,seperti bimbingan dari suvervisi yang khususnya membantu guru dalam meningkatkan profesionalnya.dan bimbimgan dalam perencanaan pengajaran,pengamatan serta analisis yang intensif dan cermat tentang penampilan mengajar yang nyata.Dalam kenyataan nya bahwa guru-guru secara professional memerlukan suvervisi pendidikan.untuk perubahan yang terus menerus yang menuntut pengembangan sumber daya guru agar terus bertumbuh dalam jabatannya,agar guru dapat bertumbuh baik pribadi maupun profesinya.sehingga dengan adanyanya kemampuan ini semua guru sudah bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik ialah memanusiakan manusia.

c. Kemukakan satu contoh bimbingan supervisor kepada guru mengenai penyimpangan yang dilakukan guru dalam pengajaran.
Untuk mengatasi masalah disiplin perlu ada analisis yang tajam:
• sikap guru
Supervisor dapat membantu dalam menganalisis faktor-faktor yang menyebab timbulnya perilaku yang yang bermasalah. Berbagai penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ada hubungan antara sikap guru dengan perilaku siswa yang bermasalah. Misalnya guru yang malas, guru yang suka mengkritik, guru yang terlalu kasar, guru yang suka merokok, dapat menimbulkan rasa yang tidak senang kepada guru.
• Gaya mengajar guru dan gaya belajar siswa
Baik gaya mengajar guru, maupun gaya belajar siswa dapat menjadi sebab timbulnya perilaku yang bermasalah dan pelanggaran disiplin. Pelangaran disiplin dapat disebabkan oleh salah satu gaya mengajar guru. Ada beberapa gaya mengajar guru:


2. Supervisi Klinis
a. Alasan digunakan kata “Klinis” pada supervisi klinis
Supervisi klinis merupakan bentuk bimbingan profesional yang diberikan kepada guru berdasarkan kebutuhannnya melalui siklus yang sistematis. Siklus sistematis ini meliputi: perencanaan, observasi yang cermat atas pelaksanaan dan pengkajian hasil observasi dengan segera dan obyektif tentang penampilan mengajarnya yang nyata.
Jika dikaji berdasarkan istilah dalam “klinis”, mengandung makna: (1) Pengobatan (klinis) dan (2) Siklus, yaitu serangkaian kegiatan yang merupakan daur ulang. Untuk itu, supervisi klinis merujuk pada unsur-unsur khusus, sebagai berikut:
1) Adanya hubungan tatap muka antara pengawas dan guru didalam proses supervisi.
2) Terfokus pada tingkah laku yang sebenarnya didalam kelas.
3) Adanya observasi secara cermat.
4) Deskripsi pada observassi secara rinci.
5) Pengawas dan guru bersama-sama menilai penampilan guru.
6) Fokus observasi sesuai dengan permintaan kebutuhan guru.

b. Prinsip-Prinsip Supervisi Klinis
Dalam supervisi klinis terdapat sejumlah prinsip umum yang menjadi landasan praktek, antara lain:
1) Hubungan antara supervisor dengan guru adalah hubungan kolegial yang sederajat dan bersifat interaktif. Hubungan semacam ini lebih dikenal sebagai hubungan antara tenaga professional berpengalaman dengan yang kurang berpengalaman, sehingga terjalin dialog professional yang interaktif dalam suasana yang intim dan terbuka. Isi dialog bukan pengarahan atau instruksi dari supervisor/pengawas melainkan pemecahan masalah pembelajaran.
2) Diskusi antara supervisor dan guru bersifat demokratis, baik pada perencanaan pengajaran maupun pada pengkajian balikan dan tindak lanjut. Suasana demokratis itu dapat terwujud jika kedua pihak dengan bebas mengemukakan pendapat dan tidak mendominasi pembicaraan serta memiliki sifat keterbukaan untuk mengkaji semua pendapat yang dikemukakan didalam pertemuan tersebut dan pada akhirnya keputusan ditetapkan atas persetujuan bersama.
3) Sasaran supervisi terpusat pada kebutuhan dan aspirasi guru serta tetap berada didalam kawasan (ruang lingkup) tingkah laku gurudalam mengajar secara aktual. Dengan prinsip ini guru didorong untuk menganalisis kebutuhan dan aspirasinya didalam usaha mengembangkan dirinya.
4) Pengkajian balikan dilakukan berdasarkan data observasi yang cermat yang didasarkan atas kontrak serta dilaksanakan dengan segera. Dari hasil analisis balikan itulah ditetapkan rencana selanjutnya.
5) Mengutamakan prakarsa dan tanggung jawab guru baik pada tahap perencanaan, pengkajian balikan bahkan pengambilan keputusan dan tindak lanjut. Dengan mengalihkan sedini mungkin prakarsa dan tanggung jawab itu ke tangan guru diharapkan pada gilirannya kelak guru akan tetap mengambil prakarsa untuk mengembangkan dirinya.
Prinsip-prinsip supervisi klinis diatas membawa implikasi bagi kedua belah pihak (supervisor dan guru).
1) Implikasi bagi supervisor antara lain:
a) Memiliki keyakinan akan kemampuan guru untuk mengembangkan dirinya serta memecahkan masalah yang dihadapinya.
b) Memiliki sikap terbuka dan tanggap terhadap setiap pendapat guru.
c) Mau dan mampu memperlakukan guru sebagai kolega yang memerlukan bantuannya.
2) Implikasi bagi guru antara lain:
a) Perubahan sikap dari guru sebagai seseorang yang mampu mengambil prakarsa untuk menganalisis dan mengembangkan dirinya.
b) Bersikap terbuka dan obyektif dalam menganalisis dirinya.
c. Kegiatan Yang dilakukan Oleh Supervisor Dalam Melaksanakan Supervisi Klinis
Secara umum kegiatan-kegiatan supervisi klinis diklasifikasikan dalam tiga tahap esensial berikut, yaitu:
1) Tahap Pertemuan Awal
Tahap pertama dalam proses supervisi klinik adalah tahap pertemuan awal (preconference). Pertemuan awal ini dilakukan sebelum melaksanakan observasi kelas sehingga banyak juga para teoritisi supervisi klinik yang menyebutkan dengan istilah tahap pertemuan sebelum observasi (preobservation Conference). Menurut Sergiovanni (1987) tidak ada tahap yang lebih penting daripada tahap pertemuan awal ini.
Tujuan utama pertemuan awal ini adalah untuk mengembangkan, bersama antara supervisor dan guru, kerangka kerja observasi kelas yang akan dilakukan. Hasil akhir pertemuan awal ini adalah kesepakatan (contract) kerja antara supervisor dan guru. Tujuan ini bisa dicapai apabila dalam pertemuan awal ini tercipta kerja sama, hubungan kemanusian dan komunikasi yang baik antara supervisor dengan guru. Selanjutnya kualitas hubngan yang baik antara supervisor dan guru memiliki pengaruh signifikan terhadap kesuksesan tahap berikutnya dalam proses supervisi klinik. Oleh sebab itu para teoritisi banyak menyarankan agar pertemuan awal ini, dilaksanakan secara rileks dan terbuka. Perlu sekali diciptakan kepercayaan guru terhadap supervisor, sebab kepercayaan ini akan mempengaruhi efektivitas pelaksanaan pertemuan awal ini. Kepercayaan ini berkenaan dengan kenyakinan guru bahwa supervisor memperhatikan minat atau perhatian guru.
Secara teknis, ada delapan kegiatan yang harus dilaksanakan dalam pertemuan awal ini, yaitu
a) menciptakan suasana yang akrab dan terbuka,
b) mengidentifikasi aspek-aspek yang akan dikembangkan guru dalam pengajaran.
c) menerjemahkan perhatian guru ke dalam tingkah laku yang bisa diamati,
d) mengidentifikasi prosedur untuk memperbaiki pengajaran guru,
e) membantu guru memperbaiki tujuannya sendiri
f) menetapkan waktu observasi kelas,
g) menyeleksi instrument observasi kelas, dan
h) memperjelas konteks pengajaran dengan melihat data yang akan direkam.
Goldhammer, Anderson, dan Krajewski (1981) mendeskripsikan satu agenda yang harus dihasilkan pada akhir pertemuan awal. Agenda tersebut adalah:
a) Menetapkan kontrak atau persetujuan antara supervisor dan guru tentang apa saja yang akan diobservasi.
b) Menetapkan mekanisme atau aturan-aturan observasi.
c) Menetapkan rencana spesifik untuk melaksanakan observasi.
2) Tahap Observasi Pembelajaran
Tahap kedua dalam proses supervisi klinik adalah tahap observasi mengajar secara sistematis dan obyektif. Perhatian observasi ini ditujukan pada guru dalam bertindak dan kegiatan-kegiatan kelas sebagai hasil tindakan guru. Waktu dan tempat observasi mengajar ini sesuai dengan kesepakatan bersama antara supervisor dan guru pada waktu mengadakan pertemuan awal.
Observasi mengajar, mungkin akan terasa sangat kompleks dan sulit, dan tidak jarang adanya supervisor yang mengalami kesulitan. Dengan demikian supervisor dituntut untuk menggunakan bermacam-macam ketrampilan.
Menurut Daresh (1989) ada dua aspek yang harus diputuskan dan dilaksanakan oleh supervisor sebelum dan sesudah melaksanakan observasi mengajar, yaitu menentukan aspek-aspek yang akan diobservasi mengajar dan bagaimana cara mengobservasinta. Aspek-aspek yang akan diobservasi harus sesuai dengan hasil diskusi antara supervisor dan guru pada waktu pertemuan awal. Aliva (1984) menegaskan sebagai berikut :
If we follow through with the cycle of clinical supervisor the teacher and supervisor in the preobservation conference have decided on the specific behaviors of teacher and students which the supervisor will observe. The supervisor concentrates on the presence or absence of the spesific behaviors (Oliva : 1984, halaman 502).
Acheson dan Gall (1987) mereview beberapa teknik dan mengajurkan kita untuk menggunakannya dalam proses supervisi klinis beberapa teknik tersebut adalah sebagai berikut:
a) Selective verbatim. Di sini supervisor membuat semacam rekaman tertulis, yang bisa dibuat dengan a verbatim transcript. Sudah barang tentu tidak semua kejadian verbal harus direkam dan sesuai dengan kesepakatan bersama antara supervisor dan guru pada pertemuan awal, hanya kejadian-kejadian tertentu yang harus direkam secara selektif. Transkrip ini bisa ditulis langsung berdasarkan pengamatan dan bisa juga menyalin dari apa yang direkam terlebih dahulu melalui tape recorder.
b) Rekaman observasional berupa a seating chart. Di sini, supervisor mendokumentasikan perilaku-perilaku murid-murid sebagaimana mereka berinteraksi dengan seorang guru selama pengajaran berlangsung. Seluruh kompleksitas perilaku dan interaksi di deskripsikan secara bergambar. Melalui penggunaan a seating chart ini, supervisor bisa mendokumentasikan secara grafis interaksi guru dengan murid-murid dengan murid. Sehingga dengan mudah diketahui apakah guru hanya berinteraksi dengan semua murid atau hanya dengan sebagian murid, apakah semua murid atau hanya sebagian murid yang terlibat proses belajar mengajar.
c) Wide-lens techniques. Di sini supervisor membuat catatan yang lengkap mengenai kejadian-kejadian di kelas dan cerita yang panjang lebar. Teknik ini bisa juga disebut dengan anecdotal record.
d) Checkliss and timeline coding. Di sini supervisor mengobservasi dan mengumpulkan data perilaku belajar mengajar.Perilaku pembelajaran ini sebelumnya telah diklasifikasi atau dikategorikan. Contoh yang paling baik prosedur ini dalam observasi supervisi klinik adalah skala analisis interaksi Flanders (Flanders; 1970). Dalam analisis ini, aktivitas kelas diklasifikasikan menjadi tiga kategori besar, yaitu pembicaraan guru, pembicaraan murid dan tidak ada pembicaraan (silence).
3) Tahap Pertemuan Balikan
Tahap ketiga dalam proses supervisi klinik adalah tahap pertemuan balikan. Pertemuan balikan dilakukan segera setelah melaksanakan observasi pengajaran, dengan terlebih dahulu dilakukan analisis terhadap hasil observasi. Tujuan utama pertemuan balikan ini adalah ditindaklanjuti apa saja yang dilihat oleh supervisor, sebagai onserver, terhadap proses belajar mengajr. Pembicaraan dalam pertemuan balikan ini adalah ditekankan pada identifikasi dan analisis persamaan dan perbedaan antara perilaku guru dan murid yang direncanakan dan perilaku aktual guru dan murid, serta membuat keputusan tentang apa dan bagaimana yang seharusnya akan dilakukan sehubungan dengan perbedaan yang ada.
Pertemuan balikan ini merupakan tahap yang penting untuk mengembangkan perilaku guru dengan cara memberikan balikan tertentu. Balikan ini harus deskriptif, spesifik, konkrit, bersifat memotivasi, aktual, dan akurat sehingga betul-betul bermanfaat bagi guru (Sergiovanni, 1987). Paling tidak ada lima manfaat pertemuan balikan bagi guru, sebagaimana dikemukakan oleh Goldhammer, Anderson, dan Krajewski (1981), yaitu,
a) Guru bisa diberik penguatan dan kepuasan, sehingga bisa termotivasi dalam kerjanya,
b) Isu-isu dalam pengajaran bisa didefinisikan bersama supervisor dan guru dengan tepat,
c) Supervisor bila mungkin dan perlu, bisa berupaya mengintervensi secara langsung guru untuk memberikan bantuan didaktis dan bimbingan,
d) Guru bisa dilatih dengan teknik ini untuk melakukan supervisi terhadap dirinya sendiri, dan
e) Guru busa diberi pengetahuan tambahan untuk meningkatkan tingkat analisis profesional diri pada masa yang akan datang.
Dalam pertemuan balikan ini sangat diperlukan adanya keterbukaan antara supervisor dan guru. Sebaiknya, pertama-tama supervisor menanamkan kepercayaan pada diri guru bahwa pertemuan balikan ini bukan untuk menyalahkan guru melainkan untuk memberikan masukan balikan.

Berikut ini beberapa langkah penting yang harus dilakukan selama pertemuan balikan:
a) Menanyakan perasaan guru secara umum atau kesannya terhadap pengajaran yang dilakukan, kemudian supervisor berusaha memberikan penguatan (reinforcement).
b) Menganalisa pencapaian tujuan pengajaran. Di sini supervisor bersama guru mengidentifikasi perbedaan antara tujuan pengajaran yang direncanakan dan tujuan pengajaran yang dicapai.
c) Menganalisa target keterampilan dan perhatian utama guru. Di sini (supervisor bersama guru mengidentifikasi target ketrampilan dan perhatian utama yang telah dicapai dan yang belum dicapai. Bisa jadi pada saat ini supervisor menunjukkan hasil rekaman observasi, sehingga guru mengetahui apa yang telah dilakukan dan dicapai, dan yang belum sesuai dengan target ketrampilan dan perhatian utama guru sebagaimana disepakati pada tahap pertemuan awal. Apabila dalam kegiatan observasi supervisor merekam proses belajar mengajar dengan alat elektronik, misalnya dengan menggunakan alat syuting, maka sebaiknya hasil rekaman ini dipertontonkan kepada guru sehingga ia dengan bebas melihat dan menafsirkannya sendiri.
d) Supervisor menanyakan perasaannya setelah enganalisis target keterampilan dan perhatian utamanya.
e) Menyimpulkan hasil dari apa yang telah diperolehnya selama proses supervisi klinik. Disini supervisi memberikan kesempatan kepada guru untuk menyimpulkan target keterampilan dan perhatian utamanya yang telah dicapai selama proses supervisi klinis.
f) Mendorong guru untuk merencanakan latihan-latihan berikut sekaligus menetapkan rencana berikutnya.
d. ------ (belum pernah ada pengalaman)


3. Kompetensi Pengawas

a. Kompetensi Pengawas Berdasarkan Permen Diknas No. 12 Tahun 2007
1) Kompetensi Kepribadian
Menampilkan diri sebagai pengawas yang bertanggung jawab, kreatif, ingin tahu hal baru dan memotivasi diri dan orang lain dalam bekerja;
2) Kompetensi Supervisi Manajerial
Menguasai metode dan teknik supervisi dan aplikasinya dalam membina kepala sekolah dan staf sekolah agar dapat meningkatkan kualitas administrasi dan pengelolaan sekolah;
3) Kompetensi Supervisi Akademik
Menguasai metode dan teknik supervisi dan aplikasinya dalam membina guru agar dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran.
4) Kompetensi Evaluasi Pendidikan
Menguasai konsep dan prinsip penilaian dalam pendidikan dan aplikasinya untuk memantau dan menilai kinerja sekolah, kepala sekolah, guru dan staf sekolah dalam melaksanakan tugas pokok dan tanggung jawabnya serta memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran
5) Kompetensi Penelitian Pengembangan
Menguasai pendekatan, metode dan jenis penelitian pendidikan agar dapat merencanakan, melaksanakan, menulis laporan hasil penelitian (KTI dan PTS) serta membina guru dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas (PTK)
6) Kompetensi Sosial
Mampu berkomunikasi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kemampuan diri dan aktif dalam organisasi profesi pengawas (APSI).
b. Tiga hal yang menunjukkan kompetensi kepribadian seorang pengawas
1) Memiliki tanggungjawab sebagai pengawas satuan pendidikan.
2) Kreatif dalam bekerja dan memecahkan masalah baik yang berkaitan kehidupan pribadinya maupun tugas-tugas jabatannya.
3) Memiliki rasa ingin tahu akan hal-hal yang baru tentang pendidikan dan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang menunjang tugas pokok dan tanggung jawabnya.
c. Tiga kegiatan pengawas terkait dengan kompetensi evaluasi pendidikan
1) Menyusun kriteria dan indikator keberhasilan pendidikan dalam bidang pengembangan di sekolah dan pembelajaran di sekolah/madrasah.
2) Membimbing guru dalam menentukan aspek-aspek yang penting dinilai dalam pembelajaran/bimbingan tiap bidang pengembangan di sekolah atau mata pelajaran di sekolah/madrasah.
3) Menilai kinerja kepala sekolah, guru, dan staf sekolah dalam melaksanakan tugas pokok dan tanggung jawabnya untuk meningkatkan mutu pendidikan dan pembelajaran/bimbingan tiap bidang pengembangan di sekolah atau mata pelajaran di sekolah.
d. Kompetensi Supervisi Akademik
Kompetensi supervisi akademik adalah kemampuan pengawas sekolah dalam melaksanakan pengawasan akademik yakni menilai dan membina guru dalam rangka mempertinggi kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakannya, agar berdampak terhadap kualitas hasil belajar siswa.
Kompetensi supervisi akademik intinya adalah membina guru dalam meningkatkan mutu proses pembelajaran. Oleh sebab itu sasaran supervisi akademik adalah guru dalam proses pembelajaran, yang terdiri dar materi pokok dalam proses pembelajaran, penyusunan silabus dan RPP, pemilihan strategi/metode/teknik pembelajaran, penggunaan media dan teknologi informasi dalam pembelajaran, menilai proses dan hasil pembelajaran serta penelitian tindakan kelas.
e. Tiga kegiatan pengawas yang menunjukkan kompetensi supervisi manajerial
1) Menguasai metode, teknik dan prinsip-prinsip supervisi dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.
2) Menyusun program kepengawasan berdasarkan visi, misi, tujuan dan program pendidikan di sekolah.
3) Menyusun metode kerja dan instrumen yang diperlukan untuk melak-sanakan tugas pokok dan fungsi pengawasan di sekolah.

4. Kasus SD Babakan Paniisan II

a. Rendahnya mutu pelajaran matematika diakibatkan oleh kesalahan guru dalam memulai pelajaran
b. Sehinggga berakibat fatalnya hasil output siswa dalam pelajaran matematika
c. Disebabkan oleh kurangnya kontrol kepala sekolah terhadap kegiatan belajar mengajar yang dilakukan ole guru
d. Guru tersebut harus banyak belajar, bertanya, khususnya kepada para orang yang lebih mengerti atau langsung kepada pengawas yang bersangkutan.
e. Kepala sekolah berdasarkan laporan pengawas, harus membina guru tersebut dan mengirimkan beliau ke pelatihan.
f. Mengadakan supervisi klinis terhadap guru tersebut.
5. Kasus SD Cemerlang

a. Rendahnya pengetahuan pengawas terhadap tugas dasar dan fungsinya, sehingga pengawas tidak memahami berbagai masalah yang timbul.
b. Ya, kepala sekolah tidak henti-hentinya berusaha terhadap kebaikan sekolah, walaupun pengawas, tidak mau tau.
c. Tidak menguasai ilmu supervisi.
d. ”Pasti Ada Jalan Keluar”.


Piet A Sahertian, 2000. Konsep-Konsep dan Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Rineka Cipta, Jakarta
MD Suprihatin. 1989. Administrasi Pendidikan, Fungsi dan Tanggung Jawab Kepala Sekolah sebagai Administrator dan Supervisor Sekolah. IKIP Semarang Press. Semarang
Sucipto. 2003. Profesionalisasi Guru Secara Internal, Akuntabiliras Profesi. Makalah Seminar Nasional. Universitas Negeri Semarang. Semarang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar