Jumat, 14 Januari 2011

TEORI DAN MODEL PEMBELAJARAN

TEORI DAN MODEL PEMBELAJARAN






TIM MODEL PENYUSUN














Kata Pengantar



Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah Rabbul Alamin, karena atas izin-Nya sehingga penulis dapat menyajikan Modul Teori dan Model Pembelajaran
Tujuan dari penulisan buku ini ialah untuk melengkapi bahan bacaan mahasiswa dalam mengikuti mata kuliah Teori dan Model Pembelajaran . Namun, adanya modul ini bukan dimaksudkan sebagai satu-satunya pegangan yang harus dipergunakan oleh mahasiswa dalam mata kuliah Teori dan Model Pembelajaran . Oleh karena itu, di samping membaca modul ini, mahasiswa perlu untuk membaca literatur-literatur lain yang telah ditetapkan.
Materi yang diuraikan di dalam modul ini lebih menekankan kepada pentingnya model pembelajaran terhadap pembelajaran inovatif. Secara garis besar materi yang terdapat di dalam modul ini adalah pengantar dan model pembelajaran, Pendekatan, Model, Strategi, dan Model Pembelajaran, Pembelajaran Kooperatif, dan Model Pembelajaran Langsung. Diharapkan kepada pembaca agar setelah membaca materi yang terdapat di dalam modul ini, dapat memiliki pemahaman yang komprehensif terhadap model pembelajaran inovatif. Dengan dasar itulah sehingga penulis menyarankan kepada mahasiswa, guru, dosen atau profesi apapun yang memiliki kepedulian terhadap bahasa Indonesia agar memiliki modul sederhana ini.
Penulis menyadari bahwa modul ini masih banyak kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangannya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya konstruktif sangat diharapkan demi kesempurnaan modul ini. Mudah-mudahan dengan adanya bahan bacaan ini dapat membantu bagi pembaca dalam memahami dan mendalami materi ini.

Makassar, Desember 2010

Penulis











DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

Pengantar dan Model Pembelajaran………………………………………….. 1
A. Tujuan…………………………………………………………………… 1
B. Materi…………………………………………………………………… 1
I. Pendekatan, Model, Strategi dan Metode Pembelajaran ……………....... 2
A. Konsep Pembelajaran Tematik ………………………………………….. 2
B. Landasan Pembelajaran Tematik ……………………………………….. 4
C. Perencanaan Pembelajaran ………………………………………………. 5
D. Pelaksanaan Pembelajaran Tematik…………………………………… 7
E. Evaluasi Pembelajaran Tematik………………………………………... 7
II. Pembelajaran Kooperatif………………………………………………….. 9
A. Pengertian Pembelajaran Kooperatif………………………………… 9
B. Tujuan Pembelajaran…………………………………………………. 11
C. Tipe-Tipe Pembelajaran Kooperatif…………………………………. 15
III. Model Pembelajaran Langsung………………………………………….. 25
A. Pengertian Pembelajaran Langsung ………………………………… 25
B. Landasan Teori Pembelajaran Langsung…………………………… 25
C. Pelaksanaan Model Pembelajaran ………………………………….. 27
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………. 30
LAMPIRAN…………………………………………………………………… 31











PENGANTAR TEORI DAN MODEL PEMBELAJARAN

A. Tujuan
Setelah membaca dan mengikuti kegiatan pembelajaran, mahasiswa diharapkan dapat
1. memahami memerapa model pembelajaran yang dapat diterapkan pada pembelajaran di kelas yang mampu membuat siswa aktif, kreatif, dan menyenangkan;
2. menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan langkah-langkah pembelajaran yang sesuai dengan model pembelajaran tertentu;
3. mampu mempraktikkan model pembelajaran inovatif .

B. Materi
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Hal ini dapat tercipta jika para guru menguasai beberapa model pembelajaran baik secara teoretis maupun dari segi praktis.
Adanya pembelajaran yang bervariasi diharapkan dapat membangkitkan semangat dan aktivitas siswa dalam belajar, supaya kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum dapat dicapai oleh siswa. Berikut akan diuraikan beberapa pendekatan dan model-model pembelajaran yang dapat dijadikan sebagai alternatif dalam pembelajaran.



1. PENDEKATAN, MODEL, STRATEGI, DAN METODE PEMBELAJARAN

Menurut Sanjaya (2006:127), pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran. Secara umum, pendekatan dapat dipahami sebagai cara pandang terhadap objek yang akan mewarnai seluruh jalannya proses pembelajaran. Kata “model” dalam Kamus Bahasa Indonesia berarti pola, contoh, atau acuan dari sesuatu yang akan dibuat atau dihasilkan. Kata pembelajaran berarti proses atau cara menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Belajar berarti berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Jadi, model pembelajaran adalah pola atau acuan yang digunakan untuk melaksanakan proses belajar. Secara harfiah, strategi adalah suatu garis-garis besar yang menjadi acuan untuk bertindak dalam upaya mancapai sasaran yang telah ditetapkan. Strategi pembelajaran adalah kebijakan yang dipilih oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran. Menurut J. R. David (dalam Sanjaya, 2006:126), strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Metode adalah perancangan lingkungan belajar di mana siswa dan guru terlibat selama proses pembelajaran berlangsung. Jika strategi pembelajaran merujuk pada perencanaan dalam mencapai tujuan, maka metode pembelajaran adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan strategi.
Seorang guru yang telah memilih suatu strategi tertentu dalam perencanaan pembelajarannya, selanjutnya perlu menetapkan metode yang akan digunakan untuk melaksanakan strategi tersebut. Metode yang sering digunakan dalam proses pembelajaran antara lain metode ceramah, metode demonstrasi, metode penemuan, metode diskusi, dan metode simulasi.
A. Konsep Pembelajaran Tematik
Penetapan pendekatan tematik dalam pembelajaran di kelas rendah oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) ini tidak lepas dari perkembangan akan konsep pembelajaran terpadu. Menilik perkembangan konsep pendekatan terpadu di Indonesia, pada saat ini model pembelajaran yang dipelajari dan berkembang adalah model pembelajaran terpadu yang dikemukakan oleh Fogarty (1990). Model pembelajaran terpadu yang dikemukakan oleh Fogarty ini berawal dari konsep pendekatan interdisipliner yang dikembangkan oleh Jacob (1989).
Bertolak dari konsep PI yang dianut Jacob tersebut, Fogarty (1991) menyatakan bahwa ada 10 model integrasi pembelajaran, yaitu model fragmented, connected, nested, sequenced, shared, webbed, threaded, integrated, immersed, dan networked. Model-model itu merentang dari yang paling sederhana hingga yang paling rumit, mulai dari separated-subject sampai eksplorasi keterpaduan antar aspek dalam satu bidang studi (model fragmented, connected, nested), model yang menerpadukan antar berbagai bidang studi (model sequenced, shared, webbed, threaded, integrated), hingga menerpadukan dalam diri pembelajar sendiri dan lintas pembelajar (model immersed dan networked).
Adapun karakteristik dari pembelajaran tematik ini menurut Tim Pengembang PGSD (1997:3-4) adalah : (1) Holistik, suatu gejala atau peristiwa Discipline based Parallel Discipline Cross- disciplinary Multi- disciplinary Inter- Disciplinary Integrated Day Complete Program yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran tematik diamati dan dikaji dari beberapa bidang studi sekaligus, tidak dari sudut pandang yang terkotak-kotak. (2) Bermakna, pengkajian suatu fenomena dari berbagai macam aspek, memungkinkan terbentuknya semacam jalinan antar skemata yang dimiliki oleh siswa, yang pada gilirannya nanti, akan memberikan dampak kebermaknaan dari materi yang dipelajari; (3) Otentik, pembelajaran tematik memungkinkan siswa memahami secara langsung konsep dan prinsip yang ingin dipelajari. (4) Aktif, pembelajaran tematik dikembangkan dengan berdasar kepada pendekatan diskoveri inkuiri dimana siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga proses evaluasi.

B. Landasan Pengembangan Pembelajaran Tematik
Berhasilnya suatu proses pendidikan, bergantung pada proses pembelajaran yang terjadi di sekolah. Kemampuan guru yang berhubungan dengan pemahaman guru akan hakekat belajar akan sangat mempengaruhi proses pembelajaran yang berlangsung. Guru yang memiliki pemahaman hakekat belajar sebagai proses mengakumulasi pengetahuan maka proses pembelajaran yang terjadi hanyalah sekedar pemberian sejumlah informasi yang harus dihapal siswa. Sebaliknya, apabila pemahaman guru tentang belajar adalah proses memperoleh perilaku secara keseluruhan, proses pembelajaran yang terjadi mencerminkan suatu kesatuan yang mengandung berbagai persoalan untuk dipahami oleh anak secara keseluruhan dan terpadu. Seperti yang diungkapkan oleh Surya (2002:84) bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungannya. Dari definisi akan hakekat belajar di atas dapat diketahui bahwa landasan pengembangan pembelajaran tematik secara psikologis adalah merunut pada teori belajar gestalt. Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang berarti ’whole configuration’ atau bentuk yang utuh, pola, kesatuan dan keseluruhan. Teori ini memandang kejiwaan manusia terikat pada pengamatan yang berwujud pada bentuk menyeluruh. Menurut teori belajar ini seorang belajar jika ia mendapat ”insight”. Insight itu diperoleh bila ia melihat hubungan tertentu antara berbagai unsur dalam situasi itu, sehingga hubungan itu menjadi jelas baginya dan demikian memecahkan masalah itu (Nasution, 2004; Slameto, 2003)

C. Perencanaan Pembelajaran Tematik
Model pembelajaran tematik merupakan model pembelajaran yang pengembangannya dimulai dengan menentukan topik tertentu sebagai tema atau topik sentral, setelah tema ditetapkan maka selanjutnya tema itu dijadikan dasar untuk menentukan dasar sub-sub tema dari bidang studi lain yang terkait (Fogarty, 1991 : 54). Penentuan tema dapat dilakukan oleh guru melalui tema konseptual yang cukup umum tetapi produktif. Dapat pula ditetapkan dengan negosiasi antara guru dengan siswa, atau dengan cara diskusi sesama siswa. Alwasilah, dkk (1998:16) menyebutkan bahwa tema dapat diambil dari konsep atau pokok bahasan yang ada disekitar lingkungan siswa, karena itu tema dapat dikembangkan berdasarkan minat dan kebutuhan siswa yang bergerak dari lingkungan terdekat siswa dan selanjutnya beranjak ke lingkungan terjauh siswa. Berikut ini ilustrasi yang diberikan dalam penentuan tema.
D. Pelaksanaan Pembelajaran Tematik
Tahap ini merupakan pelaksanaan kegiatan proses belajar mengajar sebagai unsur inti dari aktivitas pembelajaran, yang dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan rambu-rambu yang telah disusun dalam perencanaan sebelumnya. Pelaksanaan pelambelajaran tematik diterapkan ke dalam tiga langkah Lingkungan terdekat siswa (jidiii)LingkunganRumah Lingkungan Lingkungan Luar Sekolah pembelajaran yaitu (1) Kegiatan awal bertujuan untuk menarik perhatian siswa, menumbuhkan motivasi belajar siswa,dan memberikan acuan atau rambu-rambu tentang pembelajaran yang akan dilakukan (Sanjaya, W., 2006:41) ; (2) Kegiatan inti, merupakan kegiatan pokok dalam pembelajaran. Dimana dilakukan pembahasan terhadap tema dan subtema melalui berbagai kegiatan belajar dengan menggunakan multi metode dan media sehingga siswa mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna. Pada waktu penyajian dan pembahasan tema, guru dalam penyajiannya sehendaknya lebih berperan sebagai fasilitator (Alwasilah:1988); (3) Kegiatan akhir, dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengakhiri pelajaran dengan maksud untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari siswa serta keterkaitannya dengan pengalaman sebelumnya, mengetahui tingkat keberhasilan siswa serta keberhasilan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran.

E. Evaluasi Pembelajaran Tematik
Menurut Joni (1996 : 16), bahwa pada dasarnya evaluasi dalam pembelajaran tematik tidak berbeda dari evaluasi untuk kegiatan pembelajaran konvensional. Oleh karena itu, semua asas-asas yang perlu diindahkan dalam pembelajaran konvensional berlaku pula bagi penilaian pembelajaran tematik. Bedanya dalam evaluasi pembelajaran tematik lebih menekankan pada aspek proses dan usaha pembentukan efek iringan (nurturant effect) seperti kemampuan bekerja sama, tenggang rasa dan sebagainya. Menurut Pusat Kurikulum (2002), penilaian siswa di kelas I dan II SD belum mengikuti aturan penilaian seperti mata pelajaran lain, mengingat anak kelas I SD belum semua lancar membaca dan menulis, maka cara penilaian di kelas I tidak ditekankan pada penilaian secara tertulis.
Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar siswa. Pengalaman belajar yang menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk skema, sehingga siswa akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Selain itu, dengan penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar akan sangat membantu siswa, karena sesuai dengan tahap perkembangannya siswa yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik).
Pembelajaran tematik memiliki karakteristik sebagai berikut:
• Berpusat pada siswa
• Memberikan pengalaman langsung
• Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas
• Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran
• Bersifat luwes
• Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa
• Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan
UMPAN BALIK
1. Jelaskan perbedaan antara pendekatan, model, dan strategi pembelajaran!
2. Jelaskan dasar pertimbangan pencanangan pembelajaran tematik.
3. Uraikan karakteristik pembelajaran tematik!
4. Buatlah RPP dengan model pembelajaran tematik dengan tema Diri Sendiri!

II. PEMBELAJARAN KOOPERATIF

A. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pakar-pakar yang memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan model pembelajaran kooperatif adalah John Dewey dan Herbert Thelan. Menurut Dewey kelas seharusnya merupakan cerminan masyarakat yang lebih besar. Thelan telah mengembangkan prosedur yang tepat untuk membantu para siswa bekerja secara berkelompok. Tokoh lain adalah ahli sosiologi Gordon Alport yang mengingatkan kerja sama dan bekerja dalam kelompok akan memberikan hasil lebih baik. Shlomo Sharan mengilhami peminat model pembelajaran kooperatif untuk membuat setting kelas dan proses pengajaran yang memenuhi tiga kondisi yaitu (a) adanya kontak langsung, (b) sama-sama berperan serta dalam kerja kelompok dan (c) adanya persetujuan antar anggota dalam kelompok tentang setting kooperatif tersebut.
Hal yang penting dalam model pembelajaran kooperatif adalah bahwa siswa dapat belajar dengan cara bekerja sama dengan teman. Bahwa teman yang lebih mampu dapat menolong teman yang lemah. Dan setiap anggota kelompok tetap memberi sumbangan pada prestasi kelompok. Para siswa juga mendapat kesempatan untuk bersosialisasi.
Beberapa teori yang mendasari, mengapa siswa yang bekerja dalam kelompok kooperatif belajar lebih banyak daripada kelas yang diorganisasikan secara tradisional adalah sebagai berikut (Slavin, 1995: 16).
1. Teori Motivasi
Menurut teori motivasi, motivasi siswa pada pembelajaran kooperatif terutama terletak pada bagaimana bentuk hadiah atau struktur pencapaian tujuan saat siswa melaksanakan kegiatan. Terdapat tiga pencapaian tujuan seperti berikut ini:
1. Kooperatif, di mana upaya-upaya berorientasi tujuan tiap individu menyumbang pencapaian tujuan individu lain. Siswa yakin bahwa tujuan mereka tercapai jika dan hanya jika siswa lain mencapai tujuan tersebut
2. Kooperatif, di mana upaya-upaya berorientasi tujuan tiap individu membuat frustasi pencapaian tujuan individu lain. Siswa yakin bahwa mereka akan mencapai tujuan jika dan hanya jika siswa lain tidak mencapai tujuan tersebut.
3. Individualistik, di mana upaya-upaya berorientasi tujuan tiap individu tidak memiliki konsekuensi terhadap pencapaian tujuan individu lain. Siswa yakin upaya mereka sendiri untuk mencapai tujuan tidak ada hubungannya dengan upaya siswa lain dalam mencapai tujuan tersebut.
Berdasarkan teori motivasi, struktur pencapaian tujuan menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan yang diinginkan anggota kelompok harus saling membantu satu sama lain untuk keberhasilan kelompoknya dan atau yang lebih penting adalah memberi dorongan atau dukungan pada anggota lain untuk berusaha mencapai tujuan yang maksimal.
2. Teori Kognitif
Teori kognitif menekankan pengaruh bekerja dalam suasana kebersamaan di dalam kelompok itu sendiri (apakah kelompok mencoba mencapai suatu tujuan kelompok atau tidak). Yang termasuk dalam kategori teori kognitif adalah teori perkembangan atau teori elaborasi kognitif.
a. Teori Perkembangan
Asumsi yang mendasar dari teori perkembangan adalah ingteraksi antar siswa di sekitar tugas-tugas yang sesuai dalam meningkatkan penguasaan mereka terhadap konsep-konsep yang sulit. Menurut Vygotsky interaksi antar siswa terjadi pada zona of proximal development ”jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu.”
b. Teori Elaborasi Kognitif
Pandangan teori elaborasi kognitif berbeda dengan pandangan teori perkembangan. Penelitian dalam psikologji kognitif telah menemukan bahwa apabila informasi harus tinggal dalam memori, siswa harus terlibat dalam beberapa macam kegiatan restruktur atau elaborasi atas suatu materi. Sebagai contoh, membuat ikhtisar atau outline dari suatu bkuliah merupakan kegiatan belajar yang lebih baik daripada sekedar membuat catatan, karena ikhtisar atau outline menghendaki siswa mereorganisasi materi dan memilih materi yang penting. Salah satu cara elaborasi yang paling efektif adalah menjelaskan materi itu kepada orang lain. Dalam hal ini ada yang menjadi pembicara dan pendengar, dan antara pembicara dan pendengar akan lebih banyak belajar. Bila dibandingkan dengan belajar sendiri, pembicara akan lebih banyak belajar. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian bahwa siswa yang menerima penjelasan yang telah dijabarkan akan mendapatkan satu pelajaran lebih bila dibandingkan dengan belajar sendiri, tetapi tidak sebanyak yang diperoleh orang yang menerangkannya.

B. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tiga tujuan pembelajaran yang penting, yakni perestasi akademik, penerimaan akan penghargaan dan pengembangan keterampilan sosial (Arends, 1997: 111).
1. Perestasi Akademik
Meskipun pemelajaran kooperatif mencakup berbagai tujuan sosial, namun pembelajaran kooperatif juga dapat digunakan untuk meningkatkan prestasi akademik. Para pengembang pembelajaran kooperatif telah menunjukan bahwa struktur penghargaan kooperatif dapat meningkatkan nilai yang diperoleh siswa dan mengubah norma-norma yang sesuai dengan prestasi itu (Arends, 1997: 111). Selain itu, pembelajaran kooperatif dapat bermanfaat bagi siswa yang berprestasi rendah dan tinggi bersama-sama dalam mengajarkan tugas-tugas akademik. Siswa yang berprestasi tinggi secara akademik memperoleh lebih banyak karena ia berfungsi sebagai tutor yang membutuhkan pemikiran yang lebih mendalam tentang konsep-konsep dalam suatu pelajaran.
2. Penerimaan akan Keanekaragaman
Efek penting kedua dari model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan yang lebih luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan dan ketidakmampuannya. Belajar kooperatif menyajikan peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik, dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.
3. Perkembangan Keterampilan Kooperatif
Tujuan ketiga dan penting dari belajar kooperatif adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan-keterampilan kerjasama dan elaborasi. Ini merupakan keterampilan penting yang harus dimiliki dalam suatu masyarakat, di mana banyak pekerjaan orang dewasa dilakukan dalam organisasi besar dan saling ketergantungan dan sangat beragam budayanya. Namun banyak anak-anak dan orang dewasa kekurangan keterampilan ini. Hal ini dibutuhkan dengan seberapa sering ketidaksesuaian di antara individu-individu dapat membawa pada tindak kekerasan atau seberapa sering orang dewasa menyampaikan rasa tidak puasnya saat diminta bekerja dalam situasi kooperatif.
Terdapat beberapa tipe model pembelajaran kooperatif seperti tipe STAD (Student Teams Achievement Division), tipe jigsaw dan investigasi kelompok dan pendekatan struktural. Keempat tipe tersebut mempunyai perbandingan seperti pada Tabel 2 berikut ini.




Tabel 2. Perbandingan Empat Pendekatan dalam Pembelajaran Kooperatif
Aspek Tipe STAD Tipe Jigsaw Investigasi Kelompok Pendekatan Struktural
Tujuan kognitif Informasi akademik sederhana Informasi akademik sederhana Informasi akademik tingkat tinggi dan keterampilan inkuiri Informasi akademik sederhana
Tujuan social Kerja kelompok dan kerja sama Kerja kelompok dan kerja sama Kerjasama dalam kelompok kompleks Keterampilan kelompok an keterampilan sosial
Struktur tim Kelompok heterogen dengan 4-5 orang anggota Kelompok belajar heterogen dengan 5-6 orang anggota menggunakan pola kelompok ”asal” dan kelompok ”ahli” Kelompok belajar dengan 5-6 anggota heterogen Bervariasi, berdua, bertiga, kelompok dengan 4-6 anngota.
Pemilihan topik pelajaran Biasanya guru Biasanya guru Biasanya siswa Biasanya guru
Tugas Utama Siswa dapat menggunakan lembar kegiatan dan saling membantu untuk menuntaskan materi belajarnya Siswa mempelajari materi dalam kelompok” ahli” kemudian membantu anggota kelompok asal mempelajari materi itu Siswa menyelesaikan inkuiri kompleks Siswa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan sosial dan kognitif
Penilaian Tes mingguan Bervariasi dapat berupa tes mingguan Menyelesaikan proyek dan menulis laporan, dapat menggunakan tes essay Bervariasi
Pengakuan Lembar pengetahuan dan publikasi lain Publikasi lain Lembar pengetahuan dan publikasi lain Bervariasi
Model pembelajaran kooperatif mempunyai sintaks tertentu yang merupakan ciri khususnya. Tabel 3 berikut ini adalah sintaks model pembelajaran kooperatif dan tingkah laku guru pada setiap sintaks.
Tabel 3. Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif
Fase Tingkah Laku Guru
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Fase 2
Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Fase 3
Mengorganisasi siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
Fase 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Fase 5
Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

Tipe-Tipe Pembelajaran Kooperatif
1. Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Salah satu tipe pembelajaran kooperatif adalah Jigsaw. Pada mulanya Jigsaw dikem-bangkan oleh Elliot Aronson dan kawan-kawan, kemudian oleh Robert E. Slavin (1991) Jigsaw tersebut divariasikan. Melalui tipe Jigsaw dapat dibangun kemampuan afektif siswa seperti:
• Mengemukakan pendapat
• Mendengar
• Bertanya
• Mengelola materi
• Mengklarifikasi
• Menghargai orang lain
• Mengontrol / mengendalikan diri
• Bekerjasama dengan orang lain
• Kesediaan berbagi pengetahuan yang dimiliki
• Meminta bantuan orang lain
• Memotivasi teman belajar
• Mengkomunikasikan hasil diskusi
Dalam pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw siswa dikelompokkan secara heterogen.
Bagaimana mengelompokkan siswa secara heterogen? Berikut ini adalah contoh pengelompokkan siswa:
1. Susunlah peringkat siswa dari peringkat satu dan selanjutnya sampai dengan peringkat terakhir berdasar nilai sebelumnya
2. Tentukan beberapa siswa pertama (contoh tentukan siswa peringkat satu sebagai kelompok A, siswa peringkat 2 sebagai kelompok B dst). Atur setiap tim terdiri dari siswa yang peringkat nilainya tinggi, sedang dan rendah.
3. Selanjutnya, guru meminta 4 orang siswa dengan topik yang berbeda untuk presentasi tentang topiknya di depan kelas secara bergiliran.
4. Akhirnya, guru mengadakan tes secara individual dan dikoreksi langsung sambil dibahas. Skor atau nilai siswa dalam kelompok belajar (home group) dirata-ratakan. Untuk memotivasi siswa guru memberikan penghargaan kepada kelompok belajar/home group yang nilai rata-ratanya tinggi.
5. Model jigsaw dikembangkan oleh Eliot Aronson dan kawan-kawannya dan kemudian diadaptasi oleh slavin dan kawan-kawannya.
6. Model jigsaw siswa dibagi menjadi beberapa kelompok/tim 4 – 5 orang anggotanya bersifat heterogen. bahan akademik disajikan kepada siswa dalam bentuk teks dan tiap siswa diberi tanggung jawab untuk mempelajari satu bagian dari bahan akademik tersebut. para anggota dari berbagai kelompok/tim yang berbeda memiliki tanggung jawab untuk mempelajari satu bagian bahan akademik yang sama dan selanjutnya berkumpul untuk saling membantu mengkaji bahan tersebut.
7. Kelompok siswa yang dimaksud “ disebut kelompok pakar (expert group)”. sesudah kelompok pakar berdiskusi dan menyelesaikan tugas, maka anggota dari kelompok pakar ini kembali ke kelompok semula (home teams) untuk mengajar (membuat mengerti) anggota lain dalam kelompok semula tersebut.
Secara singkat langkah-langkah pembelajaran Jigsaw terdiri atas;
• siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok heterogen 4-5 orang
• tim anggota dalam kelompok/ tim diberi bagian materi yang berbeda
• anggota dari tim-tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka.
• jika kelompok ahli selesai mendiskusikan tugasnya, maka anggota kelompok kembali ke kelompok asal/semula (home teams) untuk mengajar anggota lainnya dlm klmpok semula
• tiap kelompok/tim ahli mempresentasikan hasil diskusi.
• guru memberi evaluasi
• kesimpulan/penutup

2. Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achipment Devision (STAD)
Model pembelajaran kooperatif tipe STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan-kawannya. Tipe ini merupakan tipe yang paling sederhana di antara tipe-tipe model pembelajaran kooperatif. Para guru menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk mengajarkan informasi akademik baru kepada siswa, baik melalui penyajian verbal maupun tertulis.
Secara singkat langkah-langkah pembelajaran tipe STAD terdiri atas :
a. membentuk kelompok heterogen 4-5 orang anggotanya
b. guru menyajikan pelajaran
c. guru memberi tugas
d. tiap anggota kelompok menggunakan lembar kerja untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi antar sesama anggota kelompok
e. guru memberi kuis/pertanyaan kpd seluruh siswa. pada saat menjawab , tidak dibolehkan siswa saling membatu
f. memberi evaluasi
g. kesimpulan
3. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournamen (TGT)
Pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah suatu pembelajaran setelah kehadiran guru, siswa pindah ke kelompoknya masing-masing untuk saling membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan dari materi yang diberikan. Sebagai ganti dari tes tertulis, setiap siswa akan bertemu seminggu sekali pada meja turnamen dengan dua rekan dari kelompok lain. Adapun tahap-tahap turnamen adalah sebagai berikut:
Pertama, Pembentukan kelompok
Kelas dibagi atas kelompok-kelompok kecil terdiri dari 4-5 siswa. Perlu diperhatikan bahwa setiap kelompok mempunyai sifat heterogen dalam hal jenis kelamin dan kemamppuan akdemik. Masing-masing kelompok diberi kode, misalnya I, II, III, IV, dan seterusnya. Sebelum materi pelajaran diberikan kepada siswa dijelaskan bahwa mereka akan bekerjasama dalam kelompok selama beberapa minggu dan memainkan permainan akademik untuk menambah poin bagi nilai kelompok mereka, dan bahwa kelompok yang nilainya tinggi akan mendapat penghargaan.
Kedua, Pemberian materi
Materi pelajaran mula-mula diberikan melalui presentasi kelas, berupa pengajaran langsung atau diskusi bahan pelajaran yang dilakukan guru, menggunakan audiovisual. Materi pengajaran dalam TGT dirancang khusus untuk menunjang pelaksanaan turnamen. Materi ini dapat dibuat sendiri dengan jalan mempersiapkan lembaran kerja siswa.
Ketiga, Belajar Kelompok
Kepada masing-masing kelompok diberikan untuk mengerjakan LKS yang telah disediakan. Fungsi utama kelompok ini adalah memastikan semua anggota kelompok belajar, dan lebih khusus lagi untuk menyiapkan anggotanya agar dapat mengerjakan soal-soal latihan yang akan dievaluasi melalui turnamen. Setelah guru memberikan materi I, kelompok bertemu untuk mempelajari lembar kerja dan materi lainnya. Dalam belajar kelompok, siswa diminta mendiskusikan masalah secara bersama-sama, membandingkan jawabannya, dan mengoreksi miskonsepsi jika teman satu kelompok membuat kesalahan.
Keempat, Turnamen
Turnamen dapat dilaksanakan tiap bulan atau tiap akhir pokok bahasan. Untuk melaksanakan turnamen, langkahnya adalah sebagai berikut: (1) membentuk meja turnamen, disesuaikan dengan banyaknya siswa pada setiap kelompok, (2) menentukan rangking (berdasarkan kemampuan) setiap siswa pada masing-masing kelompok, (3) menempatkan siswa dengan rangking yang sama pada meja yang sama. (4) masing-masing siswa pada meja turnamen bertanding untuk mendapatkan skor sebanyak-banyaknya. (5) skor siswa daari maasing-masing kelompok dikumpulkan, dan ditentukan kelompok yang mempunyai jumlah kumulatif tertinggi sebagai pemenang pertandingan.
Kelima, Skor Individu
Skor individu adalah skor yang diperoleh masing-masing anggota dalam tes akhir
Keenam, Skor Kelompok
Skor kelompok diperoleh dari rata-rata nilai perkembangan anggota kelompok. Nilai perkembangan adalah nilai yang diperoleh oleh masing-masing siswa dengan membandingkan skor pada tes awal dengan skor pada tes akhir. Perhitungan nilai perkembangan sama dengan pada tipe STAD
Ketujuh, Penghargaan
Segera setelah turnamen, hitunglah nilai kelompok dan siapkan sertifikat kelompok untuk menghargai kelompok bernilai tinggi. Keberhasilan nilai kelompok dibagi dalam 3 tingkat penghaargaan, sama seperti pada tipe STAD.


Adapun langkah- langkah pembelajaran model pembelajaran ini adalah:
• Pada langkah pertama yaitu mengajar. Guru menyajikan materi pelajaran menggunakan metode ekspositori.
• Pada langkah kedua, belajar kelompok. Siswa dibimbing untuk lebih memahami materi pelajaran melalui diskusi kelompok. Siswa ditempatkan dalam kelompok heterogen beranggotakan 4 – 6 orang dan diberikan LKS. Siswa mendiskusikan masalah secara bersama-sama, membandingkan jawaban, dan meluruskan jika timbul miskonsepsi.
• Pada langkah ketiga yaitu turnamen. Siswa-siswa dengan kemampuan akademik setara dihimpun dalam meja-meja turnamen. Pada setiap meja turnamen telah disediakan kumpulan soal beserta jawabannya dalam amplop tertutup. Secara bergiliran siswa dalam setiap meja turnamen bertukar peran sebagai pembaca soal, pemain, dan penantang.
• Pada langkah keempat, penghargaan kelompok, kelompok siswa diberi penghargaan berdasarkan skor kelompok. Skor kelompok ditetapkan berdasarkan skor perkembangan individu yang diperoleh setiap anggota kelompok.

4. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS)
Menurut Arends (1997:122), ada tiga langkah dalam pembelajaran kooperatif tipe think-pair-share, yaitu:
• Langkah 1 – Thinking: Guru mengajukan sebuah pertanyaan atau isu yang terkait dengan pelajaran dan meminta semua siswa untuk menggunakan waktu satu menit memikirkan sendiri tentang jawabannya. Siswa perlu diperingatkan bahwa berbicara bukan bagian dari langkah ini
• Langkah 2 – Pairing: Guru meminta siswa untuk duduk berpasang-pasangan dan mendiskusikan apa yang telah mereka pikirkan. Interaksi yang dilakukan dapat berupa saling berbagi jawaban mengenai pertanyaan yang diajukan guru atau saling berbagi ide tentang isu yang dikemukakan guru. Waktu yang disediakan untuk langkah ini adalah 4 – 5 menit.
• Langkah 3 – Sharing: Guru meminta siswa untuk berbagi dengan seluruh kelas apa yang telah mereka sepakati dengan pasangannya. Sebaiknya guru berjalan mengelilingi ruangan, mendekati pasangan-pasangan siswa, dan mendengarkan laporan mereka. Mengingat keterbatasan waktu, maka cukup seperempat atau setengah dari seluruh pasangan dalam kelas yang diberi kesempatan melaporkan kesepakatan mereka.

5. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT)
• Langkah 1 – Numbering: Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok beranggotakan tiga sampai lima orang dan memberi nomor 1 sampai lima kepada setiap anggota dalam setiap kelompok, sehingga setiap siswa pada masing-masing kelompok memiliki nomor sendiri.
• Langkah 2 – Questioning: Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa.
• Langkah 3 – Heads Together: Siswa berdiskusi dan menyatukan pendapat dengan anggota kelompoknya mengenai jawaban pertanyaan guru, dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui dan memahami jawaban tersebut.
• Langkah 4 – Answering: Guru menyebutkan satu nomor dan siswa dari masing-masing kelompok yang bernomor sama dengan yang disebutkan guru mengemukakan jawabannya.
6. Pembelajaran kooperatif tipe TAI
Pembelajaran TAI adalah suatu pembelajaran kelompok dengan cara :
 meminta siswa bekerja dalam kelompok-kelompok pembelajaran
 bertanggung jawab dalam pengaturan dan pengecekan secara rutin,
 saling membantu memecahkan masalah dan saling mendorong untuk berinteraksi
Komponen-Komponen Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI
Komponen Pertama TEAMS
 Kelompok yang dibentuk beranggotakan 4 s.d 6 siswa
 Anggota kelompok heterogen
 Fungsi kelompok adalah memastikan bahwa semua anggota kelompok ikut belajar dan lebih khusus lagi mempersiapkan anggotanya untuk mengerjakan tes dengan baik
Komponen Kedua Student Creative
 Pemberian metode pemecahan masalah secara tahap demi tahap
 Pemberian tes formatif (misalnya dalam bentuk LKS)
 Pemberian tes Unit
Komponen Ketiga Team Study
 Para siswa membentuk pasangan-pasangan atau bertiga dalam suatu kelompok
 Para siswa membaca tes formatif
 Masing-masing siswa mengerjakan soal pertama dengan menggunakan cara sendiri, kemudian meminta seorang teman sekolompoknya untuk memeriksa jawaban
 Apabila jawabannya semua benar, maka boleh meneruskan tes sumatif. Apabila ada yang salah, siswa harus mencoba kembali soal tersebut sampai benar.
 Jika ada siswa yang mengalami kesulitan, maka disarankan meminta bantuan dari teman kelompoknya sebelum meminta pada guru
 Tidak diperbolehkan mengambil tes sumatif sebelum lulus tes formatif
 Siswa yang menyelesaikan tes unit merupakan tes akhir untuk menentukan skor kelompok
Komponen Keempat Team Scores and Recognition
 Setia minggu, guru menghitung skor kelompok
 Skor didasarkan pada jumlah rata-rata sumatif yang tercakup oleh anggota kelompok
 Menentukan peringkat setiap kelompok
Komponen Kelima Teaching Group
 Guru melakukan proses pembelajaran langsung pada kelompok-kelompok
Komponen Keenam Fact Test
 Dua kali seminggu, para siswa mengambil tes-tes tiga menit berdasarkan fakta
Komponen Ketujuh Whole-Class unit
 Setelah tiga minggu, guru menghentikan program individual yang digunakan dalam menyelesaikan tes
 Guru membahas strategi pemecahan masalah selama satu minggu
7. Tipe Investigasi Kelompok
 Guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 siswa yang heterogen
 Kelompok dibentuk dengan pertimbangan:
a. keakrabatan persahabatan
b. minat yang sama dalam topik tertentu
 Siswa memilih topik untuk diselidiki, melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang dipilih
 Menyiapkan dan mempresntasikan laporannya kepada seluruh kelas
 Pemilihan Topik : Siswa memilih sub topik khusus, siswa dikelompokkan
 Perencanaan Kooperatif : Siswa dan guru merencanakan prosedur pembelajaran, tugas, dan tujuan khusus yang konsisten dengan subtopik yang telah dipilih pada tahap pertama.
 Implementasi : Siswa menerapkan rencana yang telah mereka kembangkan di dalam tahap kedua. Kegiatan pembelajaran hendaknya melibatkan ragam aktivitas dan keterampilan yang luas dan hendaknya mengarahkan siswa kepada jenis-jenis sumber belajar yang berbeda baik diadalam atau diluar sekolah. Guru secara ketat memantau kemajuan setiap kelompok.
 Analisis dan Sintesis : Siswa menganalisis dan mengevaluasi informasi yang diperoleh pada tahap ketiga dan merencanakan bagaimana informasi tersebut diringkas dan disajikan dengan cara yang menarik sebagai bahan untuk dipresentasikan seluruh kelas.
 Presentasi hasil final : Beberapa atau semua kelompok menyajikan hasil penyelidikannya dengan cara menarik kepada seluruh kelas, dengan tujuan agar sdiswa yang saling terlibat satu sama lain dalam pekerjaan mereka dan memperoleh perfektif luas pada topik itu. Presentasi dikoordinasi oleh guru
 Evaluasi: Siswa dan guru mengevaluasi tiap konstribusi kelompok terhadap kerja kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi dilakukan dapat berupa penilaian individual atau kelompok.
UMPAN BALIK:
1. Jelaskan perbedaan antara teori perkembangan dengan teori elaborasi dalam pembelajaran kooperatif!
2. Uraikan tujuan pembelajaran kooperatif!
3. Kemukakan karakterstik pembelajaran kooperatif!
4. Buatlah RPP dengan memilih salah satu model pembelajaran kooperatif, dalam salah satu dari lima bidang studi!
5. Kemukakan langkah-langkah pembelajaran koopetif tipe:
a. Jigsaw
b. STAD
c. NHT
d. TPS



III. MODEL PEMBELAJARAN LANGSUNG

A. Pengertian Pembelajaran Langsung
Model Pembelajaran Langsung merupakan suatu model pendekatan mengajar yang dapat membantu siswa di dalam mempelajari dan menguasai ketrampilan dasar serta memperoleh informasi selangkah demi selangkah.
Ketrampilan dasar yang dimaksud dapat berupa aspek kognitif maupun psikomotorik, dan juga informasi lainnya yang merupakan landasan untuk membangun hasil belajar yang lebih kompleks. Sebelum siswa dapat memperoleh dan memproses sejumlah besar informasi yang akan diterimanya, mereka harus menguasai terlebih dahulu strategi belajar seperti membuat catatan dan merangkum isi materi bacaan. Sebelum siswa dapat berfikir secara kritis, mereka perlu menguasai ketrampilan dasar yang berkaitan dengan logika, membuat referensi dari data, dan mengenal ketidakobyektifan dalam presentasi. Sebelum siswa dapat menulis suatu paragraf mereka dalam menguasai pengkonstruksian kalimat dasar, penggunaan kata-kata dengan benar, dan disiplin diri dalam tugas penulisan. Sebelum siswa menguasai teknik menembak pistol dengan baik dan benar, maka mereka terlebih dahulu harus mengetahui tentang konsep menembak pistol yang baik dan benar, mengenal bagian-bagian pistol dan fungsinya, mengikuti pelatihan menembak pistol secara terbimbing, melaksanakan latihan menembak pistol lanjutan yang dilakukan secara mandiri.
Dalam model pembelajaran langsung dibutuhkan keaktifan, kelihaian, ketrampilan dan kreatifitas guru tanpa menghilangkan peran siswa sebagai subyek didik. Memang dalam model ini peran guru lebih menonjol daripada peran siswa.
Dampak instruksional dari model pembelajaran langsung adalah mengembangkan penguasaan ketrampilan sederhana dan kompleks serta pengetahuan deklaratif yang dapat dirumuskan dengan jelas dan diajarkan setahap demi setahap.
B. Landasan Teori Pembelajaran Langsung
Secara historis, beberapa aspek model pembelajaran langsung banyak diterapkan dan dikembangkan dalam prosedur pelatihan-pelatihan oleh dunia kemiliteran dan industri. Pengembangan model pembelajaran langsung dilandasi oleh latar belakang teoritik dan empirik tertentu. Diantaranya adalah ide-ide dari bidang analisis sistem, teori pemodelan sosial dan perilaku, serta hasil penelitian tentang keefektifan guru dalam melaksanakan fungsinya.
1. Analisis Sistem.
Dalam sebuah proses pembelajaran sebagai suatu sistem, analisis sistem menekankan pada bagaimana pengorganisasian pengetahuan dan ketrampilan, dan bagaimana menguraikan secara sistematik ketrampilan kompleks dan ide-ide menjadi komponen-komponen sehingga dapat diajarkan secara berurutan. Gagne dan Leslie Briggs (1987) mengemukakan pandangannya tentang hal ini: “Pengajaran yang dirancang secara sistematik akan berpengaruh besar terhadap perkembangan individu. Beberapa pakar pendidikan mengemukakan, bahwa pendidikan akan menjadi paling baik jika dirancang hanya untuk memberikan kesempatan kepada siswa memperoleh lingkungan belajar yang menunjang dan berkembang sesuai dengan kemampuan dan aktifitasnya sendiri tanpa adanya paksaan apapun. Kita menganggap hal tersebut merupakan pandangan yang keliru. Pembelajaran yang tidak diarahkan, menurut mereka, mungkin sekali membawa perkembangan banyak individu oleh karena satu dan lain hal menjadi tidak kompeten dalam mencapai kepuasan pribadi dan kehidupan masyarakat sekarang atau masa yang akan datang”
2. Teori Pemodelan Tingkah Laku
Teori belajar yang banyak memberikan sumbangannya pada model pembelajaran langsung adalah teori belajar sosial atau belajar melalui observasi yang menurut Arends disebut teori pemodelan tingkah laku. Teori ini mencoba menggunakan mekanisme observasi dan penguatan dari pengamatan konsekuensi-konsekuensi perilaku orang lain untuk menjelaskan perolehan bermacam-macam perilaku sosial seperti agresi dan kerjasama.
Model Pengajaran Langsung didukung beberapa hasil penelitian, seperti yang ditulis oleh Nur (2000) mengutip hasil penelitian yang dilaksanakan Stallings dan Kaskowitz dengan mengamati penampilan guru di 166 kelas, dan hasilnya menyatakan bahwa model ini lebih berhasil dan memperoleh tingkat keterlibatan yang tinggi dari pada mereka yang menggunakan metode- metode informal dan berpusat pada siswa.
C. Pelaksanaan Model Pembelajaran Langsung
Tidak ada model dan strategi pembelajaran yang paling baik dan paling jelek masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan. Penerapannya tergantung pada konteks situasi, kondisi atau kebutuhan siswa. Demikian juga dengan model pembelajaran langsung. Model ini sebenarnya dapat diterapkan di bidang studi apapun, namun yang paling sesuai adalah untuk mengajarkan mata pelajaran yang berorientasi pada penampilan atau kinerja seperti menulis, membaca, matematika, musik, pendidikan olahraga dll. Apabila informasi atau ketrampilan yang akan diajarkan terstruktur dengan baik dan dapat diajarkan selangkah demi selangkah, model pembelajaran langsung sangat cocok dipergunakan. Model pembelajaran langsung kurang cocok untuk mengajarkan ketrampilan sosial atau kreatifitas, proses berfikir tinggi dan abstrak.
Pembelajaran langsung dilaksanakan melalui lima fase, yaitu 1) menyampaikan tujuan dan meyiapkan siswa. 2) Mendemostrasikan ketrampilan atau pemahaman yang merupakan fokus pelajaran itu. 3) Memberikan latihan terbimbing 4) Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik dan 5) Memberikan latihan mandiri.
Fase-fase model pembelajaran langsung dapat dijelaskan berikut ini:
1.Menyampaikan tujuan.
Guru menjelaskan tujuan Pembelajaran khusus, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar.
2. Mendemonstrasikan pengetahuan atau ketrampilan.
Guru mendemonstrasikan ketrampilan dengan benar, atau menyajikan informasi setahap demi setahap.
3. Membimbing pelatihan.
Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal.
Dalam memberikan bimbingan pelatihan guru perlu:
a. Menugasi siswa melakukan latihan singkat dan bermakna.
b. Memberikan pelatihan sampai benar-benar menguasai konsep/ketrampilan yang dipelajari.
c. Memperhatikan tahap-tahap pelatihan (dibagi dalam segmen-segmen sehingga sangat efektif untuk memantapkan ketrampilan yang pernah dipelajari siswa.
4. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik.
Mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik.
5.Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan.
Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari. Karena sifat dan model pengajaran langsung ini teacher centered, maka tidak menutup kemungkinan terdapat perilaku siswa yang menyimpang. Jika terdapat hal yang demikian maka yang perlu dilakukan guru adalah:
1. Berilah siswa tersebut nasihat sehingga segera menghentikan perilakunya yang menyimpang. Jalinlah komunikasi yang baik sehingga dia betul-betul merubah perilakunya. Lakukan selalu kontak mata dengan siswa itu sebagai tanda perhatian gadik kepada siswanya.
2. Jelaskan dan ingatkan siswa itu tentang aturan atau prosedur yang benar. Tugasi siswa itu mengidentifikasi prosedur yang benar. Beri umpan balik jika dia belum memahami.
3. Terapkan konsekuensi atau hukuman apabila ada yang melanggar.
4. Ubahlah aktifitas kelas, seringkali perilaku yang menyimpang terjadi karena siswa terlampau lama dan bosan melakukan kegiatan tertentu. Memberikan tugas tambahan yang bervariasi, diskusi, mengubah kegiatan yang ada merupakan sarana yang tepat untuk membuat siswa kembali aktif dalam proses belajar mengajar
Terdapat beberapa hal yang penting yang perlu diperhatikan oleh para guru dalam mempraktekkan model pembelajaran langsung adalah:
1. Model pembelajaran langsung memerlukan lingkungan pembelajaran yang terstruktur baik dan uraian gadik yang jelas.
2. Pada tahap perencanaan perumusan tujuan dan analisis tugas, perlu mendapat perhatian yang seksama.
3. Dalam melaksanakan pembelajaran langsung, gadik perlu memberikan uraian yang jelas, mendemonstrasikan dan memperagakan tingkah laku yang benar, memberikan kesempatan pada siswa untuk berlatih.
4. Pelatihan perlu dilandasi oleh prinsip-prinsip sebagai berikut : berikan pelatihan singkat, bermakna, dan frekuensi yang tidak berlebihan, siswa benar-benar menguasai ketrampilan yang dilatihkan, menggunakan pelatihan yang berkelanjutan atau pelatihan berselang.
5. Pembelajaran langsung menuntut pengelolaan kelas yang unik, menarik dan mempertahankan perhatian siswa dari awal sampai selesainya proses pembelajaran.
6. Pengelolaan kelas yang juga perlu memperoleh perhatian adalah mengatur tempo pembelajaran, kelancaran alur pembelajaran, mempertahankan keterlibatan dan peran serta siswa dan menangani dengan cepat penyimpangan-penyimpangan tingkah laku siswa.
7. Penilaian hasil belajar siswa ditekankan pada praktek pengembangan dan penerapan pengetahuan dasar yang sesuai, mengukur dengan teliti ketrampilan sederhana dan yang kompleks, serta memberikan umpan balik kepada siswa.
UMPAN BALIK:
b. Jelaskan pengertian pembelajaran langsung!
c. Uraikan kelebihan dan kelemahan model pembelajaran langsung!
d. Kemukakan karakteristik pembelajaran langsung!
e. Deskripsikan secara rinci fase-fase pembelajaran langsung!

DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, Chaedar. 2006. Contectual Teaching & Learning. Bandung: MLC.

Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara.

Hairuddin, dkk. 2007. Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Direktorat Pendidikan Nasional

Isjoni. 2009. Pembelajaran Kooperatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Jacobsen, David A, dkk. 2009. Methods For Teaching. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Nasutio, S. 1982. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara

Sanjaya, Wina. 2009. Strategi Pembelajaran Berorentasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Slavin, Robeth E. 2009. Cooperative Learning. Bandung: Nusa Media

Syafaruddin, Irwan Nasution. 2005. Manajemen Pembelajaran. Jakarta: Ciputat Press


Materi Pokok Pembelajaran
IPA : Pada gambar di papan tulis diperlihatkan gambar anggota tubuh. Dalam gambar terlihat nama- nama anggota bagian tubuh, yaitu tangan, kaki, mata, hidung, dan mulut. Masing-masing anggota tubuh mempunyai fungsi masing-masing. Fungsi kaki untuk berjalan, fungsi tangan untuk memegang atau menarik benda, fungsi mata untuk melihat, fungsi hidung untuk bernafas dan mencium bau, dan fungsi mulut untuk makan. Supaya kita tetap sehat kita harus merawat anggota tubuh kita.(Gambar anggota tubuh)



Gambar laki-laki Gambar Perempuan

(Jenis gambar dan bilangan 1-5)




= 1 PINSIL




= 2 MEJA




= 3 BUKU







= 4 TOPI





= 5 TAS


LEMBAR KERJA SISWA

1. IPA
Tujuan Pembelajaran
- Siswa dapat menyebutkan bagian-bagian anggota tubuh
- Siswa dapat menunjukkan bagian-bagian tubuh dan kegunaannya

2. PKn
Tujuan Pembelajaran
- Murid dapat menjelaskan ciri-ciri fisik laki-laki dan perempuan
- Murid dapat menyebutkan tugas antara laki-laki dan perempuan
- Murid dapat menceritakan pekerjaan laki-lki dan perempuan

3. MATEMATIKA
Tujuan Pembelajaran
- Siswa dapat menyebutkan banyak benda
- Siswa dapat membandingkan dua kumpulan benda
- Siswa dapat membaca dan menuliskan lambang bilangan

Butir Soal:
Pililah dan beri tanda ceklis ( ) di atas jawaban yang benar
1. IPA:
1. Aku dapat mendengar bunyi melalui (mata, hidung, mulut, telinga)
2. Kita dapat melihat karena kita mempunyai (hidung, mata, telinga, mulut)
3. Sebelum makan kita harus (cuci muka, cuci mata, cuci tangan, cuci mulut)
4. Kita bernafas melalui (hidung, mata, telinga, mulut)
5. Aku makan melalui (telinga, mata,mulut, hidung)
2. PKN :
1. Laki-laki biasanya berambut (panjang, pendek)
2. Perempuan biasanya berambut (pendek, panjang)
3. Di sawah bapak (mencangkul, memancing, memotong)
4. Di dapur ibu (mencuci, memasak, menyiram)
5. Di sumur ibu mencuci (sepeda, mobil, pakaian)
3. MATEMATIKA
Isilah titik-titik pada soal di bawah ini dengan angka yang benar
1. Gambar pensil di papan ada ....
2. Gambar buku di papan ada ....
3. Gambar tas di papan ada ....
4. Gambar topi di papan ada ....
5. Gambar meja di papan ada ....













Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tematik
Tema : Lingkungan
Kelas 1 Semester 1
Alokasi waktu 2 minggu
Standar Kompetensi :
1. IPS : Memahami identitas diri dan keluarga serta sikap saling
menghormati dalam kemajemukan keluarga.
2. IPA : Mengenal anggota tubuh dan kegunaannya serta cara
perawatannya.
3. PKN : Menerapkan hidup rukun dalam perbedaan.
4. Matematika : Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 20.
5. Bahasa Indonesia :
• Mendengarkan : Memahami bunyi bahasa, perintah dan dongeng yang
dilisankan.
• Berbicara : Mengungkapkan fikiran, perasaan, dan informasi secara lisan dengan perkenalan dan tegur sapa, pengenalan, benda dan fungsi anggota tubuh, dan deklamasi.
• Membaca : Memahami teks pendek dengan membaca nyaring.
• Menulis : Menulis permulaan dengan menjiplak menebalkan, mencontoh, melengkapi, dan menyalin.
6. Seni Budaya dan Keterampilan : Mengapresiasi karya seni musik.
7. Basa Sunda : Mampu mengungkapkan fikiran perasaan, dan keinginan secara lisan dalam
percakapan ( guneman) permintaan ijin, perkenalan ( ngawanohkeun diri,)
penyebutan berbagai jenis gambar dan gambar berita.

Kompetensi Dasar :
1. IPS :
• Menceritakan pengalaman.

2. IPA :
• Mengidentifikasi kebutuhan tubuh agar tumbuh sehat dan kuat ( makan, air, pakaian, udara, lingkungan ).

3. PKN :
• Menjelaskan perbedaan jenis kelamin, agama, dan suku bangsa.

4. Matematika :
• Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 20.

5. Bahasa Indonesia :
• Membedakan bunyi bahasa.
• Menyapa orang lain dengan kalimat sapaan yang tepat dan bahasa yang santun..
• Membaca nyaring suku kata dan kata dengan lafal yang tepat.
• Menjiplak berbagai bentuk gambar, lingkaran dan bentuk huruf.
• Menebalkan berbagai bentuk gambar, lingkaran, dan bentuk huruf.
• Mencontoh huruf, kata atau kalimat sederhana dari buku atau papan tulis dengan benar.

6. Seni Budaya dan Keterampilan :
• Mengidentifikasi unsur/ elemen musik dari berbagai sumber bunyi yang dihasilkan tubuh manusia

7. Basa Sunda :
• Menyebutkan berbagai jenis gambar benda

Indikator :
1. IPS :
• Menceritakan kembali pengalaman waktu kecil berdasarkan cerita orang tua.
• Menceritakan pengalaman pergi , di sekolah atau pulang sekolah
• Menceritakan kesan hari pertama masuk Sekolah Dasar.

2. IPA :
• Menunjukkan nama makanan sehat yang berguna bagi tubuh.
• Menjelaskan perlunya air, makan, pakaian, udara dan lingkungan untuk
tumbuh sehat.
• Membedakan jenis air, makanan, pakaian, udara, dan lingkungan yang baik
untuk tumbuh sehat.

3. PKN :
• Menyebutkan 5 agama yang diakui di Indonesia beserta tempat ibadahnya
• Menceritakan kegiatan yang berkaitan dengan hari besar agama
• Menyebutkan 4 kitab suci dari agama yang yang ada di Indonesia.
• Menjelaskan 5 pemuka agama yang diakui di Indonesia.

4. Matematika :
• Menerjemahkan bentuk penjumlahan dan pengurangan sampai 20 ke dalam
kalimat sehari-hari.
• Membaca dan menggunakan simbol +, -, dan = dalam mengerjakan hitung
sampai 20
• Menghapal fakta dasar penjumlahan dan pengurangan sampai dengan 20.
• Menjumlah bilangan 3 angka hasil sampai 20.

5. Bahasa Indonesia :
• .Membedakan berbagai bunyi / suara Tertentu secara tepat.
• Menirukan bunyi/ suara tertentu seperti, kendaraan atau suara benda.
• Menyapa teman sebaya, guru, dan orang lain serta orang yang lebih tua
dengan bahasa dan cara yang santun.
• Mengenali huruf-huruf dan membacanya sebagai suku kata, kata –kata dan
kalimat sederhana
• Menjiplak berbagai bentuk gambar dan bentuk huruf.
• Menebalkan berbagai bentuk gambar, lingkaran dan bentuk huruf.
• Menyalin / mencontoh huruf, kata, kalimat dari buku atau papan tulis dengan
benar.
• Menyalin / mencontoh kalimat dari buku atau papan tulis yang ditulis guru
dan menyalinnya pada buku sendiri..

6. Seni Budaya dan Keterampilan. :
• Menentukan sumber bunyi.
• Membedakan bunyi alam dan bunyi buatan.
• Membedakan panjang dan pendeknya bunyi.
• Menjelaskan rangkaian bunyi dan detak melalui peragaan

7. Basa Sunda :
• Menunjukkan nama benda karya manusia
• Menunjukkan nama benda ciptaan Tuhan.
• Menyebutkan kegunaan benda.
• Menyebutkan fungsi anggota tubuh.

I. Tujuan Pembelajaran :
• Siswa dapat menceritakan pengalaman waktu kecil berdasarkan cerita orang tua.
• Siswa dapat menceritakan pengalaman ke sekolah, pulang sekolah dan kesan bersekolah..
• Siswa dapat menjelaskan nama makanan sehat, perlunya makanan, pakaian, air, udara serta lingkungan untuk tumbuh sehat..
• Siswa dapat membedakan jenis air, makanan, pakaian, udara dan lingkungan yang baik untuk tumbuh.
• Siswa dapat menyebutkan 5 agama, kegiatan keagamaan, kitab suci, dan pemuka agama yang diakui di Indonesia.
• Siswa dapat menerjemahan bentuk penjumlahan dan pengurangan sampai 20 ke dalam kalimat sehari-hari..
• Siswa dapat membaca simbul +, -, = dalam mengerjakan hitung sampai 20..
• Siswa dapat menghapal fakta dasar penjumlahan dan pengurangan sampai 20
• Siswa dapat menjumlahkan bilangan 3 angka hasil sampai 20.
• Siswa dapat membedakan berbagai bunyi / suara tertentu secara tepat.
• Siswa dapat menirukan bunyi/ suara tertentu seperti kendaraan atau suara benda.
• Siswa dapat menyapa teman, orang lain dengan kalimat yang baik dan cara yang santun.
• Siswa dapat membaca suku kata, kata, dan kalimat sedrehana.
• Siswa dapat menjiplak, menebalkan dan menyalin huruf, gambar, dan kalimat.
• Siswa dapat menentukan sumber bunyi
• Siswa dapat membedakan bunyi alam dan buatan.
• Siswa membedakan panjang dan pendeknya bunyi.
• Siswa dapat menunjukan benda karya manusia dan ciptaan Tuhan.
• Siswa dapat menyebutkan kegunaan benda.
• Siswa dapat menyebutkan fungsi anggota tubuh.

II. Materi Ajar ( Materi Pokok ) :
• Peristiwa masa kecil
• Hidup rukun dalam perbedaan.
• Oprasi hitung bilangan.
• Pengucapan bunyi atau suara tertentu di sekitar
• Pelafalan bunyi bahasa
• Kalimat sapaan
• Membaca kata dan kalimat.
• Menjiplak dan menebalkan huruf, kata dan kalimat
• Unsur – unsur bunyi dan musik melalui pengalaman musik
• Gambar barang budaya/ alami.

III. Metoda Pembelajaran :
• Ceramah
• Diskusi.
• Tanya jawab.
• Demontrasi.
• Pemberian tugas.

IV. Langkah-langkah pembelajaran :
A. Kegiatan awal :
• Mengisi daftar kelas , berdoa, mempersiapkan materi ajar, model, alat peraga.
• Memperingatkan cara duduk yang baik ketika menulis, membaca.
• Mengumpulkan tugas/ PR

B. Kegiatan inti :
Minggu I
Pertemuan pertama : 3 x 35 menit ( IPA, PKN, Matematika)
• Mengamati model/ gambar makanan sehat, menyebutkan jenis makanan yang dapat
menyehatkan tubuh.
• Mengelompokkan jenis makanan yang menyehatkan dan tidak menyehatkan.
• Menyebutkan jenis air yang baik untuk kesehatan tubuh.
• Mengamati lingkungan sekitar untuk mendiskusikan pentingnya air, pakaian, udara,
dan lingkungan untuk tumbuh sehat.
• Mengamati gambar tempat ibadah umat beragama di Indonesia.
• Menyebutkan nama agama yang sesuai dengan tempat ibadah yang ditunjuk
• Menceritakan kegiatan keagamaan yang pernah diikuti atau yang pernah dilihat, dan didengar.
• Mendiskusikan kegiatan keagamaan yang ada di Indonesia.
• Memberikan contoh peristiwa sehari-hari yang berkaitan dengan penjumlahan dan pengurangan.
• Menterjemahlkan peristiwa tersebut ke dalam kalimat matematika baik penjumlahan dan pengurangan hasil sampai 20 secara lisan.

Pertemuan ke dua 3 x 35 menit ( Bahasa Indonesia, IPS, Matematika )
• Melalui pendengaran yang cermat menyebutkan suara langsung dan suara tiruan.
• Menirukan susra yang didengar, dan menyebutkan jenis suara yang didengar.
• Menirukan susra binatang, kendaraan, dan suara alam.
• Mendengarkan penjelasan guru tentang peristiwa yang pernah dialami pada saat masih kecil bisa diceritakan kembali kepada orang lain, sebagai pengalaman.
• Menceritakan pengalaman masa kecil yang didengar dari orang tua atau orang lain kepada temannya atau gurunya
• Mengajukan pertanyaan tentang pengalaman orang lain.
• Menuliskan peristiwa penjumlahan dalam kehidupan sehari-hari ke dalam kalimat matematika secara lisan
• Mencari hasil dari penjumlahan tersebut .

Peretemuan ke tiga 2 x 35 menit ( Bahasa Indonesia, Matematika )
• Melalui pengalaman dan pengamatan dapat membedakan suara buatan dan suara alami.
• Menyebutkan suara –suara alami yang pernah didengar
• Menyebutkan suara-suara buatan yang pernah didengar
• Melalui penjelasan guru, siswa dapat membaca simbul + yang dapat diartikan sebagi penjumlahan,dikumpulkan, diberi lagi, membeli lagi penambahan, dan simbul = untuk mendapatkan hasil.
• Melakukan penjumlahan melalui benda konkrit dan ditulis dalam kalimat matematika dengan menggunakan simbul + dan =.

Pertemuan ke empat 2 x 35 menit. ( Bahasa Indonesia, Matematika )
• Melalui pengamatan dan pengalaman siswa menciptakan jenis suara yang baru.
• Bermain bunyi , membuat kelompok , setiapa kelompok mengeluarkan bunyi tiruan dan bunyi alami yang pernag didengar.
• Mencari hasil penjumlahan dengan hasil yang tepat, dalam menerjemahkan ke dalam kalimat penjumlahan.
• Membuat kalimat matematika melalui pengamatan lingkungan kelas.
Pertemuan ke lima 3 x 35 menit ( Basa Sunda, Matematika, Bahasa Indonesia)
• Melalui pengamatan lingkunga sekitar, siswa menyebutkan benda hasil karya manusia.
• Melalui pengamatan dan pengalaman, siswa menyebutkan ciptaan Tuhan.
• Mengelompokkan benda hasil karya manusia dan ciptaan Tuhan dengan cara mengerjakan Lembar Kerja.
• Melalui penjelasan guru, siswa dapat membaca simbul ( - ) yang dapat diartikan sebagi pengurangan, dikurangi, terbang, lari, hilang, diberikan, dan simbol = untuk mendapatkan hasil.
• Melakukan pengurangan melalui benda konkrit dan ditulis dalam kalimat matematika dengan menggunakan simbul ( - ) dan ( = )
• Melalui penjelasan guru, siswa memeragakan menyapa teman dengan cara yang baik dan bahasa yang santun.
• Menirukan kalimat sapaan yang diucapkan guru.

Pertemuan ke enam 3x 35 menit (Seni Budaya dan Keterampilan, Bahasa
Indonesia)
• Mendengarkan penjelasan guru tentang sumber bunyi.
• Melakukan gerakan yang dapat menghasilkan bunyi, baik menggunakan alat sederhan maupun menggunakan anggota tubuh.
• Melalui pengamatan dan pengalaman siswa mengelompokkan bunyi menjadi dua jenis yaitu bunyi alam dan bunyi buatan.
• Menjelaskan bunyi alam adalah bunyi yang dihasilkan oleh alam, contohnya suara air mengalir, angin bertiup, suara guntur , suara ombak dll.
• Menjelaskan bunyi buatan yaitu bunyi yang dihasilkan oleh tubuh manusia, contohnya : bernyanyi, berdecak, berbicara,bertepuk, memetik jari.
• Memeragakan menyapa oarng tua, guru dan orang yang lebih tua, dengan kalimat yang santun dan cara yang baik secara individual.
• Mengajukan pendapat atas peragaan temannya untuk perbaikan dan menambah keberanian mengeluarkan pendapat.

Minggu ke 2
Pertemuan pertama : 3 x 35 menit ( IPA, PKN, Matematika)
• Melalui percobaan tentang air di lingkungan sekitar siswa dapat menjelaskan jenis air yang dapat menyehtkan dan tidak menyehatkan.
• Melalui pengamatan lingkungan sekitar siswa dapat menjelaskan tentang lingkungan sekitar termasuk sehat atau tidak sehat.
• Melalui diskusi sederhana siswa menyimpulkan udara kotor sangat berpengaruh pada kesehatan manusia.
• Melalui penjelasan guru dan pengalaman, siswa menyebutkan 4 kitab suci umat beragama yang ada di Indonesia.
• Melalui Lembar Kerja siswa mencari informasi tentang 5 pemuka agama yang ada di Indonesia.
• Menyelesaikan soal latihan untuk penjumlahan.
• Mengerjakan soal penjumlahan di papan tulis.
• Melakukan penyelesaian soal cerita sederhana tentang penjumlahan.

Pertemuan ke dua 3 x 35 menit ( Bahasa Indonesia, IPS, Matematika )
• Dengan bantuan guru siswa menyusun naskah percakapan sapaan yang sederhana dengan menggunakan bahasa yang santun.
• Memperagakan naskah percapan sapaan tersebut di depan kelas.
• Melalui penjelasan guru sebagai motivasi, siswa dapat mengingat kembali kesan pertama masuk sekolah Dasar , dan menceritakan peristiwa/ pengalaman tersebut kepada orang lain atau temannya.
• Mengerjakan soal pengurangan di papan tulis.
• Menyelesaikan soal cerita sederhana tentang pengurangan



Pertemuan ke tiga 2 x 35 menit ( Bahasa Indonesia, Matematika )
• Mengamati kartu huruf a, i, u, e, o, m, n, b, d, dan l yang diperlihatkanguru.
• Melalui penggunaan kartu huruf , siswa dapat menyusun kata sederhana.
• Membaca susunan kartu huruf tersebut dengan suara nyaring dan lafal yang benar.
• Menyusun kata-kata tersebut menjadi kalimat sederhana.
• Membaca kalimat tersebut dengan suara nyaring dan pelafalan yang benar.
• Membaca dan menghapal fakta dasar penjumlahan sampai dengan 20
• Melakukan tanya jawab dan pengetesan hasil hafalan dari fakta dasar tersebut.
Pertemuan ke empat 2 x 35 menit. ( Bahasa Indonesia, Matematika )
• elalui Lembar Kerja menulis, siswa menjiplak dan menebalkan bentuk huruf a, i, u, e, o, m, n, b, d, dan l secara lepas, kata atau gambar dengan posisi duduk dan pemegangan alat tulis yang benar.
• Membaca dan menghapal fakta dasar pengurangan sampai dengan 20
• Melakukan tanya jawab dan pengetesan hasil hafalan dari fakta dasar tersebut.
• Pengetesan melalui lisan dan tertulis.

Pertemuan ke lima 3 x 35 menit ( Basa Sunda, Matematika, Bahasa Indonesia)
• Setelah menyebutkan benda-benda ciptaan manusia dan ciptaan Tuhan, siswa menjelaskan kegunaan setiap benda hasil karya manusia ( meja, korsi, peso, bedog, dll )
• Melalui pengamatan, pengalaman dan penjelasan guru, siswa menjelaskan fungsi anggota tubuh ( sirah paranti nyuhun, panon paranti ningal, dll)
• Melakukan penjumlahan melalui benda konkrit untuk konsep penjumlahan bilangan 3 angka hasil sampai 20.
• Mengerjakan soal penjumlahan bilangan 3 angka hasil sampai 20 yang didiktekan guru.
• Mengamati bentuk huruf dari papan tulis, lalu menuliskannya di udara huruf a, i, u, e, o, m, n, b, d, dan l secara lepas.
• Menuliskan kata yang dibentuk dari huruf a, i, u, e, o, m, n, b, d, dan l.
• Melakukan salintatap beberapa kata yang ditulis di papan tulis ke dalam buku tulis sendiri.

Pertemuan ke enam 3x 35 menit (Seni Budaya dan Keterampilan, Bahasa
Indonesia)
• Melalui pengamatan dan pengalaman siswa menjelaskan perbedaan panjang dan pendek bunyi,
• Membedakan keras dan pelan suatu bunyi ( dinamik).
• Menuliskan kalimat sederhana yang terdiri dari dua kata yang didiktekan guru.
• Menuliskan dengan bentuk huruf lepas yang benar.
• Menyalin kalimat sedrehana dengan tulisan tegak bersambung.

C. Kegiatan akhir
• Membuat kesimpulan dari tiap materi yang disampaikan.
• Mengerjakan post tes
• Pemberian PR / tugas

V. Alat dan Sumber Belajar
• Buku Sumber :
1. Buku Pengetahuan sosial SD kelas 1, Penerbit Erlangga
2. Buku Sains SD Kelas 1, Penerbit Erlangga
3. Buku Pendidikan Kewarganegaraan kelas 1 SD , Penerbit Grafindo Media Pratama
4. Buku Pelajaran Matematika SD Kelas 1, Penerbit Erlangga.
5. Buku Bina Bahasa Idonesia dan Sastra SD Kelas 1, Penerbit Erlangga
6. Buku Saya Ingin Terampil dan Kreatif D kelas 1, Penerbit Grafindo.
7. Buku Piwulang Basa SD Kelas 1, Penerbit Geugeur Sunten.

• Alat Peraga :
1. Gambar makanan sehat dan makanan tidak sehat..
2. Gambar keluarga dari majalah / foto keluarga.
3. Kartu huruf
4. Kartu bilangan.
5. Manik-manik, kelereng, batu-batuan, kerang.
6. rebana, suling, botol, gelas ( sumber bunyi buatan )
7. Sampel air bersih dan tidak bersih.

VI. Penilaian
Teknik Tes :
• Tes lisan.
1. Keberanian menjawab/ menyampaikan pendapat dalam diskusi kecil..
2. Ketepatan jawaban.
3. Keseriusan dan konsentrasi dalam menyimak pertanyaan.
• Tes tertulis
1. pilihan ganda
2. isian.
• Tes perbuatan.

Bentuk Tes :
1. Objektif tes
2. Non Objektif tes

Instrument Tes :
• LKS
• Lmbar observasi.

Mengetahui, ....................., ............... 2009
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran Tematik
_______________________ _______________________ NIP. NIP.








Materi pokok ; Pembelajaran
IPA
Rumah Wati bersih sekali. Tidak ada sampah berserakan di rumah Wati. Semua sampah dibuang di tempat sampah.disekitar rumah Wati banyak tanaman, semuanya ditata dengan baik . Dibelakang rumah Wati ada sumur, airnya sangat jernih, Air yang akan diminum harus dimasak dulu. Makanan juga harus bersih dan tidak boleh kotor .Anak-anak tentu tau jenis air yang sehat dan tidak sehat. Jenis makanan sehat dan yang tidak sehat. Demikianpula pakaian yang kita pakai harus bersih pula.Pakaian yang kotor harus dicuci
Gambar rumah dan lingkungan yang bersih











RUMAH YANG BERSIH















RUMAH YANG KO
PKN
Di depan rumah Ina ada mesjid namanya mesjid Al-Amin. Mesjid itu sangat bersih dan indah sekali. Di Negara kita ada tempat beribadah untuk agama yang diakui di Indonesia. Ada rumah ibadah untuk agama keristen, islam, agama hindu dan agama budha. Anak-anak tentu sudah pernah shalat di mesjid, Disamping itu kita kenal pula hari raya Islam misalnya hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Selain itu ada pula hari raya untuk agama lain seperti hari natal bagi umat keristiani, hari nyepi untuk agama hindu. Walaupun kita berbeda-beda agama tetapi tetap kita saling menghormati agama lain.Berikut ini adalah gambar rumah ibadah:
TEMPAT IBADAH AGAMA ISLAM







TEMPAT IBADAH AGAMA KRISTEN





TEMPAT IBADAH AGAMA HINDU








MATEMATIKA
Memberikan contoh gambar
GAMBAR 1




GAMBAR 2






GAMBAR 3






GAMBAR 4








LEMBAR KERJA MURID


IPA
Sebutkan nama benda dankegunaannya
NO NAMA BENDA KEGUNAANNYA
1 Lemari Menyimpan pakaian
2
3
4
5
dst








1 2

Amatilah gambar di atas

NO
HAL YANG DIAMATI HASIL PENGAMATAN
YA TIDAK
1 Apakah ada sampah yang berserakan pada gambar 1
2 Apakah taman ditata dengan rapi
3 Apakah ada genangan air
4 Apakah banyak rumput yang ada di halaman
Apakah ada jendelah rumah

PKN
Lengkapilah dengan mengisi titik-titik soal di bawah
1. Kitab suci agama Islam bernama . .. . . . . . . .
2. Kitab suci agama keristen bernama ………..
3. Kitab suci agama hindu . . . .
4. Tempat beribadah agama Islam . …………..
5. Tempat beribadah agama Keristen ……………
MATEMATIKA
Tulislah angka dibawah gambar

+ =


+ =

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar